Setelah konvoi truk logistik meninggalkan Desa Sukamaju, suasana di dalam mobil SUV mewah yang aku tumpangi bersama Gala terasa sunyi namun menenangkan. Aku bersandar pada kursi kulit, merasakan getaran halus mobil yang melaju di atas jalan aspal baru yang merupakan hasil dari kekuasaanku. Cincin berlian di jariku berkilau setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui celah kaca film yang gelap. Gala tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemariku sejak kami meninggalkan balai desa. Dia menatap lurus ke depan, namun ibu jarinya terus mengusap punggung tanganku dengan lembut. "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Santi," ucap Gala memecah keheningan. Suaranya rendah, terdengar bangga sekaligus penuh kasih sayang. "Melihat wajah Haris dan warga desa tadi, aku tahu mereka sekarang sadar bahwa mereka tidak lagi berhadapan dengan janda penjual gorengan, tapi dengan Nyonya Galang Wiryawan." Aku menoleh ke arahnya. "Aku tidak hanya membawa namamu, Gala. Aku membawa diriku
Read more