Pagi itu, sinar matahari bersinar terang menyinari Desa Sukamaju, seolah tidak pernah terjadi ketegangan mencekam semalam. Namun, di dalam rumah batako kecilku, aku sedang bersiap-siap pergi. Aku tidak membawa banyak barang. Semua daster pudar, kaus oblong kusam, dan celemek yang biasa kupakai untuk berjualan gorengan kubiarkan menumpuk di sudut kamar. Aku hanya memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas ransel kecil. Tidak ada gunanya membawa sampah-sampah itu ke kehidupanku yang sebenarnya. Tepat saat aku menutup resleting tas, terdengar suara ketukan dari pintu depan. "Neng Santi... Neng, udah bangun?" Suara Bu Yati terdengar memanggil dari luar. Aku menarik napas panjang, mengubah ekspresi wajahku yang sedari tadi datar dan dingin menjadi wajah seorang perempuan malang yang masih trauma. Aku mengusap sedikit mataku agar terlihat agak merah, lalu berjalan membuka pintu. Di teras depan, sudah berkumpul Bu Yati, Bu Tini, Kang Maman, dan Bimo. Mereka membawakan rantang
Read more