Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan
Read more