Malam harinya, setelah Isya, suasana desa terasa lebih sepi dari biasanya. Sesuai rencana, aku, Bu Yati, dan Bu Tini berjalan mengendap-endap lewat jalan setapak di belakang musala. Kami sengaja menghindari jalan utama supaya tidak ada yang melihat kami pergi ke rumah Bu Kades. Bu Tini memeluk erat selembar surat segel tanah di dadanya. Surat itu adalah bukti kelakuan kotor Pak Pamong. Di tanganku, HP yang berisi video dan rekaman suara Bu Rina juga sudah siap. Kami bertekad melaporkan ancaman preman dan surat palsu ini malam ini juga. Sesampainya di halaman belakang rumah Kepala Desa, aku mengetuk pintu dapur kayu itu pelan-pelan. Tiga kali ketukan. Tidak lama kemudian, pintu terbuka sedikit. Wajah Bu Kades muncul dari balik pintu. Tapi anehnya, beliau tidak langsung menyuruh kami masuk sambil tersenyum seperti kemarin pagi. Wajah Bu Kades terlihat tegang. Beliau menempelkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruh kami bertiga diam. "Sstt... jangan bersuara," bisik Bu Kades pelan
Read more