Matahari sore menyengat kulit. Debu merah berterbangan setiap kali truk pengangkut pasir lewat di jalanan proyek irigasi. Aku, Bu Yati, dan Bu Tini kembali menggelar lapak di bawah pohon nangka tua, persis seperti kemarin. Baru setengah jam buka, keranjang gorengan kami sudah ludes separuh. Kuli-kuli proyek itu memang seolah tidak pernah kenyang. Di antara puluhan laki-laki berbadan dekil yang berkerumun, mataku menangkap sosok Bimo. Dia sedang duduk ngemper di pinggir galian parit yang belum dicor, napasnya ngos-ngosan sambil mengipas-ngipas leher dengan topi capingnya. "Bu Yati, Bu Tini, tolong pegang lapak sebentar ya. Aku mau ngasih sisa nasi bungkus ini ke Bimo," ucapku pelan, sambil mengambil dua bungkus nasi rames dan segelas kopi hitam. Bu Yati langsung cemberut, tangannya yang sedang menjepit bakwan berhenti di udara. "Heh, ngapain kamu kasih makan gratis ke laki-laki brengsek itu, Neng? Biarin aja dia kelaparan! Duit gajinya kan ada buat beli sendiri." "Sst, udah
Read more