LOGINRuangan VVIP itu kembali dipenuhi suasana tenang setelah cerita panjang Miranti tadi. Di atas ranjang— Hazel masih tertidur lelap karena pengaruh obat. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Sedangkan di sofa dekat jendela, Lintang duduk diam sambil mendengarkan setiap cerita Miranti tanpa memotong sedikit pun. Tatapan laki-laki itu semakin lama semakin berat. Miranti sendiri sempat diam beberapa detik. Tangannya meremas pelan ujung jilbab yang dikenakannya. Lalu perempuan itu kembali bicara pelan. “Untungnya… orang tua Hazel dari awal memang udah nyiapin semuanya buat masa depan dia.” Lintang mengangkat wajah perlahan. Tatapannya masih fokus mendengarkan. Miranti tersenyum kecil pahit. “Hazel sebenarnya dulu gak tau apa-apa soal itu. Dia pikir setelah orang tuanya meninggal… ya hidupnya biasa aja.” Tatapan perempuan itu bergerak ke arah Hazel di ranjang. “Apalagi waktu Leyan sakit…” Nada suaranya mulai melemah lagi mengingat masa itu. “Ha
Lorong VVIP rumah sakit itu terasa semakin sunyi malam ini. Lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang tubuh Lintang dan Damar yang berdiri saling berhadapan. Di kejauhan hanya terdengar langkah pelan perawat yang sesekali lewat. Sedangkan wajah Lintang terlihat jauh lebih dingin sekarang setelah mendengar semua laporan tentang Rehan Pratama. Tangannya masih memegang map hitam itu erat. Saatembaca isi laporan semakin terasa jelas betapa menjijikkannya laki-laki itu. Memukul istri, memeras uang, berjudi dan menyewa perempuan. Ironisnya orang seperti itu justru terus menghina Hazel seakan perempuan itu paling hina di hidupnya. Lintang akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah Damar. “Pantau terus.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun justru karena terlalu tenang, ucapan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Damar langsung mengangguk kecil. “Baik pak.” Lintang melanjutkan lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kalau perlu videokan semu
Tangis Hazel belum benar-benar berhenti. Perempuan itu masih menunduk di atas ranjang rumah sakit sambil memegang erat selimut di pangkuannya. Bahu kecilnya sesekali bergetar pelan. Sedangkan suasana ruangan terasa begitu tenang malam itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat semuanya terasa lebih hening. Suara pendingin ruangan terdengar samar, dari luar jendela lampu kota Bandung masih menyala terang. Namun di dalam sana isi hati Hazel justru terasa jauh lebih berisik dibanding apa pun. Semua ucapan Lintang Aksara Narendra sejak tadi terus memukul kesadarannya perlahan. Tentang anak-anak, tentang dirinya sendiri dan tentang hidup yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Padahal yang ia pertahankan justru perlahan menghancurkan dirinya. Sedangkan Lintang masih duduk di sofa dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel diam-diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, justru sekarang jauh lebih lembut. Laki-laki itu tahu Hazel sebenarnya sudah terlalu lelah untuk terus melawan semuanya
Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut
Malam mulai turun saat mobil Lintang memasuki area parkir rumah sakit. Lampu-lampu gedung menyala terang di tengah langit Bandung yang mulai gelap. Udara malam terasa lebih dingin dibanding siang tadi. Sedangkan di dalam mobil suasana justru cukup ramai. Leyan sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu ibunya lagi. “Bunda pasti udah sembuh…” Sedangkan Liana sibuk merapikan bando kecil di rambutnya sendiri. “Aku tadi udah mandi loh… Biar bunda lihat aku cantik.” Dan di kursi belakang Lintang kecil duduk tenang sambil memeluk tas kecilnya. Meski anak itu masih lebih diam, wajahnya sudah tidak semurung siang tadi. Begitu mobil berhenti Lintang langsung turun lalu membukakan pintu untuk mereka. “Nah pelan-pelan.” Leyan langsung turun paling cepat. Sedangkan Liana otomatis menggenggam tangan Lintang sambil berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Sementara Lintang kecil berjalan di sisi lain laki-laki itu. Entah sejak kapan tiga anak kecil tersebut sudah seperti terbiasa berada di dek
Setelah makan mereka selesai Leyan langsung duduk menyandar kenyang sambil mengusap perut kecilnya. “Aku full…” Sedangkan Liana masih sibuk menghabiskan potongan wortel dari sotonya pelan-pelan. Dan Lintang kecil sudah selesai lebih dulu sambil duduk tenang memperhatikan suasana restoran. Lintang akhirnya memanggil pelayan lagi. “Mbak.” Pelayan itu langsung mendekat ramah. “Iya Mas?” Lintang mulai menyebut beberapa menu tambahan dengan tenang. “Iga bakar satu, soto ayam bening dua, tongseng sapi satu, tempe goreng tepung sama bakwan juga tambah.” Pelayan langsung mencatat cepat. Sedangkan Leyan langsung menoleh bingung. “Ayah pesen lagi?” Lintang mengangguk kecil. “Buat bunda.” Tatapan anak-anak itu langsung berubah sedikit lebih cerah sekarang. Lintang kembali melanjutkan. “Nanti diantar ke rumah sakit ruangan Bunda, sekalian buat nenek Miranti.” Lalu laki-laki itu diam sebentar sebelum menambahkan lagi. “Sama dua orang yang jaga di luar.” Pelayan langsung mengangguk sopan
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha
Keesokan harinya, Kevin sengaja menghindari kantin fakultasnya sendiri, terlalu ramai dan terlalu berisik. Dan akhir-akhir ini, ia semakin malas mendengar obrolan teman-temannya yang entah kenapa selalu berakhir membahas Hazel, tentang tubuhnya, tentang malam itu dan tentang hal-hal yang semakin me
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany







