LOGINSuara kasar Rehan masih terdengar memenuhi ruangan rawat itu. Bentakan demi bentakan keluar tanpa jeda. Sedangkan Hazel duduk diam di atas ranjang dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan matanya turun, jemarinya menggenggam ujung selimut erat. Lintang bisa melihat jelas perempuan itu sebenarnya gemetar sedikit. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama hidup di bawah tekanan seperti ini. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya duduk lebih dekat di sisi ranjang. Lalu perlahan tangannya menyentuh tangan Hazel. Hangat dan tenang, tidak menggenggam keras. Hanya menyentuh pelan seperti memberi tahu dirinya ada di sana. Sentuhan kecil itu langsung membuat Hazel sedikit tersadar. Tatapan perempuan itu perlahan berpindah ke arah Lintang. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap tenang sambil mengangguk kecil. 'Jawab. Kamu bisa.' Entah kenapa keberanian kecil itu akhirnya muncul lagi di diri Hazel. Perempuan itu menarik napas pelan, lalu akhirnya bicara. “Ngapain kamu repot-repot ke r
Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,
Setelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s
Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse
Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…
Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Lintang Aksara Narendra melangkah ringan di lorong fakultas bisnis dan ekonomi. Setiap langkahnya seolah menarik perhatian tanpa harus ia minta. Beberapa mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman menoleh, berbisik pelan satu sama lain, bahkan ada yang mencoba menatap sekilas dari balik buku. Linta
Lintang masih memandang ke arah jalan tempat gadis itu menghilang beberapa detik lebih lama. Langkahnya ringan, cepat, seolah-olah kejadian tadi hanyalah hal kecil baginya. “Dia anak yang hebat”, kata wanita itu tiba-tiba. Lintang kembali menoleh pada ibunya. “Mom tidak tanya namanya?” Wanita
Kabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan kebun teh yang luas ketika Hazel Chiara Parameswari berdiri di tepi jalan setapak yang membelah perkebunan milik keluarganya. Udara Bandung selalu terasa berbeda baginya, lebih dingin, lebih tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya







