Mag-log inMobil milik Levian akhirnya masuk ke area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Suasana kantor yang awalnya biasa saja perlahan mulai berubah saat beberapa karyawan menyadari mobil yang datang itu bukan mobil milik Lintang Aksara Narendra. Awalnya mereka hanya melirik sekilas. Namun begitu pintu mobil terbuka, satu persatu wajah mulai berubah tegang. Karena yang turun dari kursi pengemudi justru direktur utama mereka sendiri. Levian Ankara Narendra. Laki-laki itu turun santai dengan kacamata hitam masih terpasang, sementara tiga anak kecil ikut turun dari mobil dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding para karyawan yang melihat mereka. “ASTAGA…” Salah satu staf perempuan langsung menepuk lengan temannya pelan. “Itu pak Levian kan?!” “YA IYALAH!” “Ngapain direktur utama kesini mendadak?!” Beberapa satpam sampai refleks berdiri lebih tegak. Sedangkan dua staf marketing yang tadi masih bercanda dekat pintu masuk langsung buru-buru merapikan pakaian mereka. Karena
Setelah sambungan telepon itu terputus, ruangan rawat kembali dipenuhi keheningan. Namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berat. Hazel masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Tatapannya kosong lurus ke depan dan perlahan air matanya kembali jatuh. Awalnya sedikit tapi Satu. Lalu semakin banyak. Bahu perempuan itu mulai bergetar kecil. Bukan tangisan keras. Melainkan tangisan orang yang terlalu lama menahan semuanya sendiri sampai akhirnya tidak kuat lagi. “Aku… Suaranya pecah pelan. “Aku capek…” Hazel memang selalu terlihat menahan semuanya sendirian. Tetap bekerja, tetap mengurus anak-anak dan tetap bertahan. Padahal dirinya sendiri perlahan hancur. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya bergerak lebih dekat. Tangannya perlahan mengusap punggung tangan Hazel pelan. Lalu berpindah mengusap punggung perempuan itu perlahan. Gerakannya tenang dan hati-hati seperti takut membuat Hazel semakin rapuh. “Udah…” Suara Lintang rendah. “Jangan nangis terus.” Tatapannya turun
Suara kasar Rehan masih terdengar memenuhi ruangan rawat itu. Bentakan demi bentakan keluar tanpa jeda. Sedangkan Hazel duduk diam di atas ranjang dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan matanya turun, jemarinya menggenggam ujung selimut erat. Lintang bisa melihat jelas perempuan itu sebenarnya gemetar sedikit. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama hidup di bawah tekanan seperti ini. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya duduk lebih dekat di sisi ranjang. Lalu perlahan tangannya menyentuh tangan Hazel. Hangat dan tenang, tidak menggenggam keras. Hanya menyentuh pelan seperti memberi tahu dirinya ada di sana. Sentuhan kecil itu langsung membuat Hazel sedikit tersadar. Tatapan perempuan itu perlahan berpindah ke arah Lintang. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap tenang sambil mengangguk kecil. 'Jawab. Kamu bisa.' Entah kenapa keberanian kecil itu akhirnya muncul lagi di diri Hazel. Perempuan itu menarik napas pelan, lalu akhirnya bicara. “Ngapain kamu repot-repot ke r
Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,
Setelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s
Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse
Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber
Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul
Lintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesu
Pagi itu, Hazel sudah bangun lebih awal seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menembus jendela kamar kosnya, tapi ia sudah menyiapkan tas, buku catatan, dan beberapa peralatan praktis untuk kuliah. Rambutnya dikuncir sederhana, kacamata menempel di wajahnya, dan kemeja nude oversize yang rapi dip







