"Lady..." Kael meletakkan cangkir tehnya perlahan setelah menghabiskan tegukan terakhir. Kali ini, tidak ada senyum jahil di wajahnya.Aruna menatapnya."Jika aku mengatakan sesuatu kepadamu, apakah kau akan menganggapku gila?"Aruna menggeleng santai."Sepertinya tidak."Dalam hati, ia justru berpikir bahwa pria di hadapannya ini terkadang lebih mirip tukang lawak di televisi daripada seorang pangeran pewaris takhta.Kael menarik napas panjang.Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tatapan kelabu lembutnya kemudian bertemu dengan mata Aruna."Lady..."Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya."Aku menyukaimu."Aruna membeku.Kael melanjutkan sebelum keberaniannya menghilang."Awalnya aku mengira aku hanya senang menggodamu. Aku pikir melihatmu kesal, mendengar ocehanmu, atau membuatmu tersenyum hanyalah hiburan bagiku."Ia tersenyum kecil, tetapi wajahnya kembali memerah."Tapi ternyata bukan itu."Kael menundukkan pandangan sebentar."Setiap kali kau pergi, aku selalu mencari-cari alas
Read more