Talia termenung. Setelah mbak pergi membawa kopernya, Hady mendekati sang istri. Membawa makanan yang ia masak sendiri. "Sayang. Makan lah, aku sudah masakan untukmu," ucapnya sambil meletakkan piring di permukaan meja.Kelala Talia mendongak, berucap lirih. "Kenapa masak sendiri? Biar aku aja.""Sudahlah. Kita makan dulu, kebuatkan nasi goreng doang kok, bentar lagi, bibi yang akan di sini menemanimu," sambung Hady sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Talia menghela napas, rasanya gak mood makan, tidak lapar. Masih was-was, tidak terbayang bila ia terkena sial dan makan makanan yang ada obatnya tersebut, mungkin saat ini ia terkapar di rumah sakit juga kehilangan janinnya. "Aku gak lapar, makan duluan aja," ucapnya, mengelus perut.----Icha duduk memeluk lututnya, di sudut sel yang terasa amat dingin. Jemarinya, lalu menggenggam erat terali besi, hingga buku-buku jarinya memucat. Tatapan Icha kosong, namun di dalam kepalanya hanya ada satu nama yang terus ber
Read more