“Aku sudah siapkan air hangat,” ucap Talia tanpa melihat kepada Hady. Hady mengalihkan pandangan ke sumber suara. Talia tampak segar dengan stelan kemeja biru muda. Roknya setengah betis, rambutnya dikuncir kuda. Mengekspos lehernya yang kuning lansat. Beranjak, mendekati Talia. “Semalam, lihat apa?” suara bariton itu terasa dekat ditelinga Talia dan mampu membuat dadanya berdebar cepat. “Ha, ngg-nggak.” Talia menggeleng sambil menjauh, mendekati sofa. Membereskan bekas tidurnya Hady. “Nggak, apa nggak nih?” tanya Hady malah menggoda. Makin mendekat, suaranya masih parau khas bangun tidur. “Beneran, Nggak. Aku, aku mau buatkan sarapan dulu,” sahutnya sambil berlalu menuju pintu, meninggalkan selimut dan bantal di Sofa. “Eh, Nona … ini disimpan dulu, biar rapi,” perintah Hady menghentikan langkah Talia yang hampir sampai menjangkau pintu. Langsung Talia menoleh ke sofa. Buru-buru mengambil selimut dan bantalnya, ia mesukan ke dalam wardrove, dita tanya dengan rapih. Seb
Last Updated : 2026-04-23 Read more