Talia nyengir, lucu sendiri, bila memang ia membaca buku terbalik. Bisa-bisanya ya. Ah dasar! “Kamu, belum menjawab pertenyaanku.” “Yang mana sih?” kening Talia mengernyit. Pertanyaan yang mana emang, perasaan gak dengar apa-apa. “Hem, kamu suka ya, sama si Toni? Tenang saja … nanti kalau sudah berpisah, kamu bebas, tapi bukan sekarang.” Kening Talia makin mengernyit, mendengar perkataan Hady. Siapa bilang juga ia suka sama Toni? Ia hanya menyukai dia sebagai rekan saja. Teman biasa saja, gak lebih. “Wajar dong, kalau aku suka dia, bukannya kalau nanti aku pisah sama dirimu, kan bebas.” Perkataan Talia, malah terdengar pedas. Rahang Hady mengereras. Tatapannya menajam pada Talia, “jadi … kamu sudah gak sabar ya? Untuk pisah denganku?” Talia menggeleng. Masa bodoh Hady mau bilang apa, dia yang bikin perjanjian kok, terserah mau menganggap apa juga? “Em, aku … sebenarnya, sampai duduk di sini, ada yang ingin aku bicarakan penting.” Tatapannya yang teduh sekilas pada Hady
Last Updated : 2026-05-09 Read more