“Jangan, aku gak mau, aku takut … karena kita mau pi-pisah,” tolak Talia dengan terbata dan berusaha mundur, menghindari Hady. “Iya, aku akan menceraikanmu. Tenang saja, tapi tolong … layani aku kali ini saja, untuk terakhir kalinya,” mohon Hady dengan napas yang memburu tak beraturan. Talia terus mundur. Dan kemanapun Hady ikutin dengan tatapan penuh permohonan. “Nggak, ku mohon … jangan paksa aku, tolong.” “Ayok, jangan munafik, kamu juga pengenkan itu? Kamu gak akan bisa melupan kejadian waktu itu, sekalipun kita berdua kena pengaruh obat.” Hady terus mendekat, ini fakta, bahwa kejadian itu sulit dilupakan. Walau antara sadar dan tidak. Kaki Talia mentok kembali di bibir tempat tidur, matanya yang gelisah menatap seringai Hady, tangannya terbuka. Matanya menatap lapar, bak berhadapan dengan hidangan di piring. Hady terus membisikan kata-kata mutiara, untuk dalam meluluhkan pertahanan Talia. Memohon-mohon untuk dilayani, sekali ini saja, janji. Tidak akan menuntu lagi. Ada
Last Updated : 2026-05-19 Read more