Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Naura seolah enggan terpejam. Di dalam kamarnya yang luas, ia mondar-mandir tanpa tujuan. Piyama satin berwarna krem lembut yang dikenakannya berayun mengikuti langkah kakinya yang gelisah. Rambut panjangnya sengaja digerai menutupi bahu hingga leher, menyamarkan jejak-jejak kepemilikan Arka yang masih membekas.Di tangannya, ponsel pintar itu tergenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk kesekian kalinya, ia menekan nama Dion di daftar kontak.“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan—”"Dion, please... angkat," gumam Naura lirih. Bibir bawahnya tergigit kuat, berusaha membendung sesak yang memenuhi dadanya.Pikirannya benar-benar kacau. Sejak Vanessa pulang siang tadi, kabar mengenai kebakaran studio baru Dion terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa bersalah yang begitu besar menghimpit dadanya tanpa ampun. Di saat Dion sedang menghadapi musibah, ia justru menghabiskan dua hari terakhir bersama A
Baca selengkapnya