로그인Malam di Pulau Jeju turun begitu tenang. Cahaya lampu kota memantul di permukaan kaca jendela kamar hotel kru Mahardika Aviation, sementara debur ombak yang memecah bibir pantai terdengar lirih dari kejauhan, nyaris menyerupai bisikan. Keheningan itu sama sekali tidak mampu meredakan kekacauan di dalam kepala Crystal.Baru saja pintu kamar tertutup, ia melempar tas kerjanya ke atas sofa.BRUK!Blazer seragam yang sedari tadi melekat di tubuhnya dilepas begitu saja. Sepasang sepatu hak tinggi meluncur ke dua arah berbeda setelah ia menendangnya tanpa peduli. Dengan langkah cepat, Crystal menghampiri wastafel, memutar keran hingga air mengalir deras, kemudian membasuh wajahnya berkali-kali berharap seluruh kejadian siang tadi ikut luruh bersama aliran air.Setiap kali memejamkan mata, bayangan itu kembali muncul dengan sangat jelas. Sorot lembut Arka saat memandang Naura. Senyum perempuan itu. Ciuman yang sempat ia saksikan. Dan bisikan "Sayang" penuh kehangatan yang terdengar begitu le
Pintu mobil BMW tertutup rapat, memisahkan mereka dari hiruk pikuk apron privat Bandara Jeju. Pantulan cahaya lampu jalan dan bayangan pepohonan cemara yang menjulang tinggi bergerak cepat di balik kaca gelap kendaraan.Sesuai protokol privasi yang telah ditetapkan Arka, kabin belakang mobil itu hanya ditempati oleh dirinya, Naura, serta seorang pengemudi profesional lokal Korea yang duduk tenang di balik kemudi. Sementara itu, Leon, Kevin, Dimas, dan seluruh rombongan pengawal mengikuti dari belakang menggunakan dua kendaraan terpisah.Tidak sampai setengah menit setelah mobil meninggalkan area pembatas bandara dan gerbang keamanan tertutup rapat di belakang mereka, suasana di dalam kabin berubah drastis.Sisi lain Naura yang tidak pernah terlihat publik akhirnya muncul kembali. Wanita itu segera melepaskan lengannya dari pelukan Arka seolah baru saja menyentuh benda panas. Ia bergeser menjauh hingga tubuhnya hampir menempel pada sisi pintu mobil, menciptakan jarak selebar mungkin an
Perasaan suka itu tidak tumbuh kemarin sore. Sejak awal dirinya terpilih dalam seleksi ketat sebagai pramugari privat di armada Mahardika Aviation beberapa tahun silam, mata Crystal sudah terkunci pada sosok Arka Rajendra Mahardika.CEO muda yang tampan, selalu tampil sempurna, dingin, dan nyaris mustahil disentuh siapa pun. Selama bertahun-tahun bekerja di armada privat itu, Crystal telah menyaksikan tak terhitung wanita berusaha mendekatinya. Ada yang terang-terangan menggoda, ada pula yang memilih cara halus.Tak satu pun berhasil.Namun Crystal tidak pernah menyerah. Karena selama bertahun-tahun dia percaya... mungkin suatu hari Arka akan melihatnya. Melihat seseorang yang selalu ada. Yang hafal kopi favoritnya. Yang tahu jadwal terbangnya bahkan sebelum sekretaris mengirimkan agenda. Yang selalu memastikan setiap penerbangan berjalan sempurna tanpa cela. Dalam diam, Crystal terus memupuk harapan yang sama. Suatu hari nanti dialah wanita spesial yang akan berdiri di sisi Arka.Tet
Di kabin utama, kepergian Crystal tak menghentikan apa pun. Ciuman Arka dan Naura justru semakin memanas dan tak terkendali. Rasa manis red wine yang menyisa di bibir masing-masing menjalar menjadi gairah pekat yang membakar seluruh isi ruang privat itu. Udara AC yang dingin mendadak terasa gerah.Bagi Arka, Naura yang agresif seperti ini adalah momen teramat langka. Pria itu sudah terlanjur terprovokasi. Libidonya yang tersulut meledak tanpa ampun.Jemari Arka merayap turun dari leher Naura, mengelus garis rahangnya, lalu meluncur ke bawah menelusuri lekuk tubuh wanita itu. Ciuman Arka yang tadinya di bibir mulai berpindah turun, menyusuri garis rahang Naura hingga melumat leher jenjang sang model. Arka menyedot kulit halus itu dengan dalam, sengaja meninggalkan kissmark merah keunguan yang baru dalam hisapan yang pekat."Nghh... Arka, s-sudah..." desah Naura terbata-bata. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyadari bahaya situasi ini. "A-arka... berhenti dulu..."Sayangnya, Arka sudah te
Dengungan halus mesin pesawat berpadu dengan desis lembut sistem pendingin kabin, menciptakan irama monoton yang mengisi ruang di ketinggian puluhan ribu kaki. Di balik jendela oval berlapis tiga, hamparan awan putih membentang luas seperti lautan kapas yang tak bertepi, sesekali disapu cahaya matahari siang yang menyilaukan.Berbeda dengan kabin belakang yang ditempati Leon, Kevin, Dimas, serta kru pendamping lainnya, kabin utama terasa jauh lebih sunyi.Pintu geser berbahan kayu walnut memisahkan ruangan itu dari dunia luar, menciptakan ruang privat yang hanya diperuntukkan bagi pemilik jet beserta tamu paling pentingnya.Ketenangan itu sama sekali gagal menenangkan isi kepala Naura. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Sebuah majalah fashion internasional terbuka di pangkuannya, tetapi sejak lima menit terakhir halaman yang sama bahkan belum sempat ia balik.Fokusnya sama sekali bukan pada majalah itu. Melainkan pada pria yang duduk tepat di sampingnya.
"ARKA!!!"Suara protesnya kembali memenuhi kabin tengah. "Aku tadi bicara panjang lebar dan yang otak monstermu tangkap cuma bagian itu? Seriously?"Arka terkekeh rendah, membuat wajah tampannya yang biasa kaku berubah jauh lebih hidup. "Bukannya itu bagian yang paling penting bagi kita berdua, hm?""MATAMU!!!"Arka menggelengkan kepalanya melihat respons menggemaskan itu. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat dari lorong kabin.Crystal muncul kembali dengan senyum profesional yang merekah sempurna di bibirnya. Ia membawa baki perak dengan dua cangkir di atasnya, lalu berhenti tepat di samping kursi mereka dengan gerakan yang anggun."Tuan Arka, saya membawakan americano hangat tanpa gula untuk Tuan," ucap Crystal lembut, meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di sisi meja Arka.Kemudian, ia menoleh kepada Naura, senyumnya semakin manis. "Dan untuk Nona... saya sempat membaca manifest penerbangan dan preferensi
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d







