로그인jangan lupa follow ya guys, stay tuned terus ya:)
Di dalam kabin first class yang didominasi interior kayu mahoni dan kulit krem, suasana begitu tenang. Cahaya sore keemasan menembus jendela kaca oval, membiaskan bayangan lembut di pangkuan Naura.Naura bersandar malas di kursinya yang empuk. Di sampingnya, Arka duduk tegap dengan laptop terbuka di atas meja lipat. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda karena perubahan rute mendadak ke Seoul."Arka, masih lama ya sampai Seoul?" tanya Naura, memecah keheningan sembari memilin ujung rambutnya.Arka menoleh tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Sekitar empat puluh lima menit lagi. Kamu merasa pusing?""Tidak, cuma haus sih," gumam Naura. Tenggorokannya memang terasa sedikit kering setelah menyantap daging panggang di Jeju tadi. "Pokoknya nanti begitu mendarat di Gimpo, kita langsung drop koper di penthouse, terus ke Namsan Tower. Setelah itu kita harus jalan-jalan menyusuri Myeongdong. Aku mau beli hottok gula merah yang mele
Pelayan mulai membalik potongan daging yang permukaannya telah berubah cokelat keemasan, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian dengan gunting khusus. Naura sudah tidak sabar. Begitu pelayan membungkuk dan pamit keluar ruangan, ia segera menyambar sumpitnya. Selembar daun selada diambil, kemudian diisi sedikit nasi hangat, sepotong daging yang renyah di luar tetapi tetap juicy di dalam, lalu dicelupkan ke dalam saus Mel jeot yang hangat. Sebagai pelengkap, Naura menambahkan sepotong kimchi sawi di atasnya.Dengan telaten, ia menggulung daun selada itu hingga membentuk bulatan rapi. Namun, bukannya memasukkannya ke mulut sendiri, Naura justru mengarahkannya tepat ke depan bibir Arka."Buka mulutmu, Arka! Aaa..." suruh Naura dengan senyum manis.Arka memicingkan mata curiga, menahan tangan Naura. "Ini tidak ada cabe atau bawang putih mentah di dalamnya, kan?""Tidak ada, Arka. Ya ampun, dasar penakut! Cepat makan sebelum tanganku pegal!" cibir Naura menghentak-hentakkan sumpitnya.
Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Naura membaik secara signifikan. Rona sehat kembali menghiasi kedua pipinya, sementara tenaga wanita itu pun telah pulih sepenuhnya. Sesuai jadwal awal, jet pribadi Arka seharusnya lepas landas menuju Jakarta tepat pukul dua siang. Namun, rencana itu mendadak berantakan begitu Naura menyampaikan keinginannya di dalam suite resort tempat mereka tengah mengemasi barang."Tidak mau! Pokoknya penerbangannya dimundurkan saja jadi jam empat sore!" seru Naura mantap sembari bersedekap di depan koper besarnya yang masih terbuka.Arka yang sedang memasang jam tangan mewahnya menoleh kaku. "Naura, kita berangkat jam dua. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu cukup lama dan aku tidak mau kamu kecapekan di jalan.""Aku sudah sembuh, Arka!" protes Naura kesal. "Masa kita sudah jauh-jauh ke Jeju tapi aku tidak membawa oleh-oleh sama sekali sih? Aku belum membelikan apa-apa untuk sahabatku, untuk keluargaku, bahkan untuk Mami!""Biar Leon nanti yang menyuruh oran
Naura menelan ludahnya susah payah. “B-bukan begitu maksudnya, Arka. Aku cuma—"“Cuma apa?” potong Arka. Nada suaranya masih dingin. “Kamu baru saja keluar dari kondisi kritis, masih terpasang infus, dan dokter sudah memperingatkanmu untuk tidak makan makanan seperti ini. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah diam-diam menyuruh Dimas membelikannya untukmu. Are you insane?""Aku bosan makan bubur terus! Aku hanya ingin makan sesuatu yang aku suka. Kenapa kamu memperlakukanku seperti tahanan?" rengek Naura. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara bibirnya mengerucut seperti menahan tangis.Tatapan Arka masih tertancap padanya. Tidak ada sedikit pun kehangatan yang tadi pagi memenuhi sorot mata pria itu ketika ia menggenggam tangan Naura dan mengatakan betapa berharganya melihat mata wanita itu kembali terbuka. Kini, yang tersisa hanya rahang yang mengeras, urat leher yang menegang, dan sepasang mata hazel yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemarahan.“Kamu sela
Dimas berjalan menyusuri koridor resort dengan langkah cepat, tetapi wajahnya dibuat setenang mungkin. Dua paper bag berukuran cukup besar menggantung di kedua tangannya, sementara aroma khas makanan Korea yang masih hangat merembes keluar dari sela-sela kemasan.Ia membeli teokbokki, bibimbap, dan kimchi. Bahkan ia menambahkan gimbap dan mandu karena uang yang diberikan Naura masih tersisa cukup banyak. Senyum puas mengembang di wajahnya."Kalau Nona Naura tahu aku beli makanan sebanyak ini, dia pasti senang," gumam Dimas sembari melirik isi kantongnya.Namun, langkahnya mendadak melambat ketika sebuah sosok muncul dari ujung koridor. Pria itu adalah Kevin. Dimas langsung menegakkan tubuhnya. Senyumnya lenyap."Aish, shiball..."Kevin berjalan mendekat dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tatapannya jatuh pada dua paper bag di tangan Dimas, lalu beralih ke wajah pria itu."Kamu dari mana?" tanyanya datar.Dimas tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Ah… itu tadi aku habis dari r
"Rambutku bisa rontok kalau kamu jambak terus, Sayang," bisik Arka sembari meloloskan jemari Naura dari rambutnya. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Naura dapat merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulitnya."Siapa suruh menciumku terus-terusan, hah?" sembur Naura dengan pipi memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke samping, berusaha menyembunyikan debaran jantung yang mendadak tidak beraturan. "Aku ini baru sembuh dari keracunan, bukan habis memenangkan lotre."Arka terkekeh. Ia meraih jemari tangan kanan Naura yang bebas dari jalur infus, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jari."Memang bukan lotre," gumam Arka, suaranya melunak penuh kehangatan. "Tapi melihat mata bulatmu terbuka lagi... rasanya jauh lebih berharga dari apa pun."Naura tertegun. Matanya mengerjap beberapa kali. Setiap kali Arka berbicara selembut itu, benteng pertahanan di dalam dirinya seolah mencair tanpa izin. Pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Baru sekarang ia benar
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







