ログインPintu mobil BMW tertutup rapat, memisahkan mereka dari hiruk pikuk apron privat Bandara Jeju. Pantulan cahaya lampu jalan dan bayangan pepohonan cemara yang menjulang tinggi bergerak cepat di balik kaca gelap kendaraan.Sesuai protokol privasi yang telah ditetapkan Arka, kabin belakang mobil itu hanya ditempati oleh dirinya, Naura, serta seorang pengemudi profesional lokal Korea yang duduk tenang di balik kemudi. Sementara itu, Leon, Kevin, Dimas, dan seluruh rombongan pengawal mengikuti dari belakang menggunakan dua kendaraan terpisah.Tidak sampai setengah menit setelah mobil meninggalkan area pembatas bandara dan gerbang keamanan tertutup rapat di belakang mereka, suasana di dalam kabin berubah drastis.Sisi lain Naura yang tidak pernah terlihat publik akhirnya muncul kembali. Wanita itu segera melepaskan lengannya dari pelukan Arka seolah baru saja menyentuh benda panas. Ia bergeser menjauh hingga tubuhnya hampir menempel pada sisi pintu mobil, menciptakan jarak selebar mungkin an
Perasaan suka itu tidak tumbuh kemarin sore. Sejak awal dirinya terpilih dalam seleksi ketat sebagai pramugari privat di armada Mahardika Aviation beberapa tahun silam, mata Crystal sudah terkunci pada sosok Arka Rajendra Mahardika.CEO muda yang tampan, selalu tampil sempurna, dingin, dan nyaris mustahil disentuh siapa pun. Selama bertahun-tahun bekerja di armada privat itu, Crystal telah menyaksikan tak terhitung wanita berusaha mendekatinya. Ada yang terang-terangan menggoda, ada pula yang memilih cara halus.Tak satu pun berhasil.Namun Crystal tidak pernah menyerah. Karena selama bertahun-tahun dia percaya... mungkin suatu hari Arka akan melihatnya. Melihat seseorang yang selalu ada. Yang hafal kopi favoritnya. Yang tahu jadwal terbangnya bahkan sebelum sekretaris mengirimkan agenda. Yang selalu memastikan setiap penerbangan berjalan sempurna tanpa cela. Dalam diam, Crystal terus memupuk harapan yang sama. Suatu hari nanti dialah wanita spesial yang akan berdiri di sisi Arka.Tet
Di kabin utama, kepergian Crystal tak menghentikan apa pun. Ciuman Arka dan Naura justru semakin memanas dan tak terkendali. Rasa manis red wine yang menyisa di bibir masing-masing menjalar menjadi gairah pekat yang membakar seluruh isi ruang privat itu. Udara AC yang dingin mendadak terasa gerah.Bagi Arka, Naura yang agresif seperti ini adalah momen teramat langka. Pria itu sudah terlanjur terprovokasi. Libidonya yang tersulut meledak tanpa ampun.Jemari Arka merayap turun dari leher Naura, mengelus garis rahangnya, lalu meluncur ke bawah menelusuri lekuk tubuh wanita itu. Ciuman Arka yang tadinya di bibir mulai berpindah turun, menyusuri garis rahang Naura hingga melumat leher jenjang sang model. Arka menyedot kulit halus itu dengan dalam, sengaja meninggalkan kissmark merah keunguan yang baru dalam hisapan yang pekat."Nghh... Arka, s-sudah..." desah Naura terbata-bata. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyadari bahaya situasi ini. "A-arka... berhenti dulu..."Sayangnya, Arka sudah te
Dengungan halus mesin pesawat berpadu dengan desis lembut sistem pendingin kabin, menciptakan irama monoton yang mengisi ruang di ketinggian puluhan ribu kaki. Di balik jendela oval berlapis tiga, hamparan awan putih membentang luas seperti lautan kapas yang tak bertepi, sesekali disapu cahaya matahari siang yang menyilaukan.Berbeda dengan kabin belakang yang ditempati Leon, Kevin, Dimas, serta kru pendamping lainnya, kabin utama terasa jauh lebih sunyi.Pintu geser berbahan kayu walnut memisahkan ruangan itu dari dunia luar, menciptakan ruang privat yang hanya diperuntukkan bagi pemilik jet beserta tamu paling pentingnya.Ketenangan itu sama sekali gagal menenangkan isi kepala Naura. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Sebuah majalah fashion internasional terbuka di pangkuannya, tetapi sejak lima menit terakhir halaman yang sama bahkan belum sempat ia balik.Fokusnya sama sekali bukan pada majalah itu. Melainkan pada pria yang duduk tepat di sampingnya.
"ARKA!!!"Suara protesnya kembali memenuhi kabin tengah. "Aku tadi bicara panjang lebar dan yang otak monstermu tangkap cuma bagian itu? Seriously?"Arka terkekeh rendah, membuat wajah tampannya yang biasa kaku berubah jauh lebih hidup. "Bukannya itu bagian yang paling penting bagi kita berdua, hm?""MATAMU!!!"Arka menggelengkan kepalanya melihat respons menggemaskan itu. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat dari lorong kabin.Crystal muncul kembali dengan senyum profesional yang merekah sempurna di bibirnya. Ia membawa baki perak dengan dua cangkir di atasnya, lalu berhenti tepat di samping kursi mereka dengan gerakan yang anggun."Tuan Arka, saya membawakan americano hangat tanpa gula untuk Tuan," ucap Crystal lembut, meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di sisi meja Arka.Kemudian, ia menoleh kepada Naura, senyumnya semakin manis. "Dan untuk Nona... saya sempat membaca manifest penerbangan dan preferensi
Deru mesin Gulfstream G700 memecah keheningan apron privat Mahardika Aviation ketika konvoi kendaraan hitam berhenti satu per satu di depan tangga pesawat. Panas terik siang hari memantul di badan pesawat yang mengkilap bak cermin raksasa. Logo Mahardika Aviation yang terlukis gagah di ekor pesawat tampak mencolok, menjadi simbol kemewahan yang sudah begitu akrab di kalangan pebisnis papan atas Asia.Pintu Rolls-Royce terbuka lebih dahulu. Naura turun tanpa menunggu siapa pun membukakan pintu untuknya. Topi yang menutupi sebagian rambut panjangnya sedikit ia rapikan sebelum melangkah cepat menuju tangga pesawat."Pelan-pelan, Sayang." Suara berat Arka terdengar tenang dari belakang.Naura tidak menoleh sama sekali. Langkahnya justru semakin dihentakkan sengaja. "Tidak usah pura-pura peduli. Itu menjijikkan sekali."Arka berjalan menyusul dengan langkah lebar yang santai. "Kamu masih marah?"Naura mendengkus kesal. Menyadari langkah Arka sudah terlalu dekat, ia akhirnya berhenti di anak
Roda jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan hentakan halus. Bagi Naura hentakan itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Udara Jakarta yang lembap dan pekat segera menyeruak masuk begitu pintu kabin terbuka, menggantikan aroma steril jet pribadi yang mewah
Dari jendela jet pribadinya, Arka Rajendra Mahardika memandangi pendar itu tanpa ekspresi. Api di luar sana terasa cocok dengan bara di dalam dadanya.Gelas whisky di tangannya sudah hampir kosong. Ia memutar cairan itu pelan, gerakannya tenang. Di monitor kecil di depannya, terlihat wajah seorang p
Aroma sheet mask lavender yang menenangkan memenuhi kamar luxury suite di The Elysian Hotel. Naura menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, sementara Vanessa sibuk mengoleskan serum ke wajahnya sendiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini, suasana terasa normal atau setidak
Langit Singapore mulai berwarna jingga saat mobil yang ditumpangi mereka keluar dari pusat kota. Naura duduk kaku di kursi penumpang, kedua tangannya menggenggam erat pangkuannya. Sejak tadi ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, kini berubah menjadi curiga. Jalanan semakin sempit, diapit







