LOGINDi kabin utama, kepergian Crystal tak menghentikan apa pun. Ciuman Arka dan Naura justru semakin memanas dan tak terkendali. Rasa manis red wine yang menyisa di bibir masing-masing menjalar menjadi gairah pekat yang membakar seluruh isi ruang privat itu. Udara AC yang dingin mendadak terasa gerah.Bagi Arka, Naura yang agresif seperti ini adalah momen teramat langka. Pria itu sudah terlanjur terprovokasi. Libidonya yang tersulut meledak tanpa ampun.Jemari Arka merayap turun dari leher Naura, mengelus garis rahangnya, lalu meluncur ke bawah menelusuri lekuk tubuh wanita itu. Ciuman Arka yang tadinya di bibir mulai berpindah turun, menyusuri garis rahang Naura hingga melumat leher jenjang sang model. Arka menyedot kulit halus itu dengan dalam, sengaja meninggalkan kissmark merah keunguan yang baru dalam hisapan yang pekat."Nghh... Arka, s-sudah..." desah Naura terbata-bata. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyadari bahaya situasi ini. "A-arka... berhenti dulu..."Sayangnya, Arka sudah t
Dengungan halus mesin pesawat berpadu dengan desis lembut sistem pendingin kabin, menciptakan irama monoton yang mengisi ruang di ketinggian puluhan ribu kaki. Di balik jendela oval berlapis tiga, hamparan awan putih membentang luas seperti lautan kapas yang tak bertepi, sesekali disapu cahaya matahari siang yang menyilaukan.Berbeda dengan kabin belakang yang ditempati Leon, Kevin, Dimas, serta kru pendamping lainnya, kabin utama terasa jauh lebih sunyi.Pintu geser berbahan kayu walnut memisahkan ruangan itu dari dunia luar, menciptakan ruang privat yang hanya diperuntukkan bagi pemilik jet beserta tamu paling pentingnya.Ketenangan itu sama sekali gagal menenangkan isi kepala Naura. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Sebuah majalah fashion internasional terbuka di pangkuannya, tetapi sejak lima menit terakhir halaman yang sama bahkan belum sempat ia balik.Fokusnya sama sekali bukan pada majalah itu. Melainkan pada pria yang duduk tepat di sampingnya.
"ARKA!!!"Suara protesnya kembali memenuhi kabin tengah. "Aku tadi bicara panjang lebar dan yang otak monstermu tangkap cuma bagian itu? Seriously?"Arka terkekeh rendah, membuat wajah tampannya yang biasa kaku berubah jauh lebih hidup. "Bukannya itu bagian yang paling penting bagi kita berdua, hm?""MATAMU!!!"Arka menggelengkan kepalanya melihat respons menggemaskan itu. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat dari lorong kabin.Crystal muncul kembali dengan senyum profesional yang merekah sempurna di bibirnya. Ia membawa baki perak dengan dua cangkir di atasnya, lalu berhenti tepat di samping kursi mereka dengan gerakan yang anggun."Tuan Arka, saya membawakan americano hangat tanpa gula untuk Tuan," ucap Crystal lembut, meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di sisi meja Arka.Kemudian, ia menoleh kepada Naura, senyumnya semakin manis. "Dan untuk Nona... saya sempat membaca manifest penerbangan dan preferensi
Deru mesin Gulfstream G700 memecah keheningan apron privat Mahardika Aviation ketika konvoi kendaraan hitam berhenti satu per satu di depan tangga pesawat. Panas terik siang hari memantul di badan pesawat yang mengkilap bak cermin raksasa. Logo Mahardika Aviation yang terlukis gagah di ekor pesawat tampak mencolok, menjadi simbol kemewahan yang sudah begitu akrab di kalangan pebisnis papan atas Asia.Pintu Rolls-Royce terbuka lebih dahulu. Naura turun tanpa menunggu siapa pun membukakan pintu untuknya. Topi yang menutupi sebagian rambut panjangnya sedikit ia rapikan sebelum melangkah cepat menuju tangga pesawat."Pelan-pelan, Sayang." Suara berat Arka terdengar tenang dari belakang.Naura tidak menoleh sama sekali. Langkahnya justru semakin dihentakkan sengaja. "Tidak usah pura-pura peduli. Itu menjijikkan sekali."Arka berjalan menyusul dengan langkah lebar yang santai. "Kamu masih marah?"Naura mendengkus kesal. Menyadari langkah Arka sudah terlalu dekat, ia akhirnya berhenti di anak
"Eh—Arka, apa—mmph!"Bibir pria itu langsung membungkamnya. Melumatnya bergantian hingga menggigit pelan bibir Naura dengan sensual.Kedua mata Naura seketika membelalak membesar karena terkejut yang luar biasa. Sialan! Monster ini benar-benar nekat menciumnya di tempat umum! Tangannya secara refleks bergerak naik, mencengkeram bagian depan kemeja hitam Arka dengan kuat. Ia sudah berniat penuh untuk mendorong tubuh tegap pria itu menjauh dari dirinya,Namun tepat di detik yang sama, memorinya mendadak memutar bayangan perban putih yang melilit bahu kanan Arka yang baru saja ia bersihkan dengan susah payah beberapa menit lalu di kamar. Gerakannya terhenti. Jemarinya menegang di atas kain kemeja itu, diliputi keraguan yang datang begitu saja.Keraguan singkat bercampur rasa khawatir yang tersembunyi dari Naura itu langsung dimanfaatkan oleh Arka dengan sangat cerdas. Pria itu memperdalam tautan bibir mereka, menarik pinggang Naura semakin erat, dan memiringkan posisi kepala mereka untuk
Rahang Arka mengeras samar. "Belum mengatakan kepada siapa?" tanyanya dingin.Naura tersentak dari lamunannya, buru-buru menata detak jantungnya agar tidak ketahuan. "Vanessa!" kelitnya sedatar mungkin, mencoba bersikap natural."Kamu yakin?""Iya, yakinlah! Memangnya kenapa sih? Vanessa itu manajerku, wajar kan kalau aku harus memberi tahu dia kalau aku mau pergi ke luar negeri!"Arka menatap mata Naura lekat-lekat, seolah sedang menelanjangi seluruh kebohongan yang tersimpan di sana. Ada dorongan ego yang sangat besar dalam diri Arka untuk mencengkeram bahu Naura dan memaksa wanita itu melafalkan nama Dion secara langsung di depan wajahnya. Tetapi, Arka memilih untuk menahannya.‘Belum saatnya.’ Batin Arka."Kopermu sudah disiapkan di bawah," kata Arka, sengaja mengalihkan pembicaraan untuk meredam ketegangan.Naura mengerutkan keningnya bingung. "Koper siapa?""Kopermu, Naura.""HAH?!""Semua pakaian, paspor, kosmetik, dan kebutuhan pribadimu sudah dikemas rapi tadi pagi-pagi sekali
Sayangnya, yang membuat jantungnya seolah diremas adalah apa yang terhampar di atas tempat tidur dan apa yang terlihat di dalam walk in closet yang pintunya terbuka setengah.Matanya membelalak sempurna saat menatap deretan gaun malam rancangan desainer ternama yang tergantung rapi berdasarkan grada
“Bagaimana cara aku menghadapi monster itu nanti? Arghh, sialan.” Pekiknya tertahan sambil mencak-mencak di atas kasur.Di tengah kekacauan pikirannya yang terasa nyaris meledak, suara pintu walk-in closet yang bergeser terbuka membuat Naura tersentak. Ia segera mengangkat kepala.Arka melangkah kel
Di dalam mobil, kaca film hitam membatasi pandangan dari luar, tetapi bisikan-bisikan dari pertanyaan tajam para wartawan tadi masih melekat jelas di telinga Naura. Ia menunduk di kursi penumpang sambil memeluk dirinya sendiri, merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis.Vanessa mengemudi dengan
Tatkala kesadarannya kembali pulih, Naura berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun sialnya, apa yang mereka lakukan beberapa menit lalu adalah sebuah kenyataan yang membuatnya ingin menghilang saja dari bumi ini.Saat akhirnya ia memberanikan diri melirik ke bawah, napasnya







