Mas!"Syifa sedikit kesulitan membuka matanya, rasanya cukup berat. Kepalanya pusing, tubuhnya seperti tidak bertenaga dan pedih itu ... rasanya begitu menusuk di bawah sana. Bukan hanya itu, Syifa merasakan ada kain basah di ketiaknya, dahi dan .... "Gimana, Yang? Apa yang dirasakan?"Itu suara Yaksa, Syifa memaksakan matanya terbuka, menatap Yaksa yang nampak panik dan kamar yang nampak sudah terang benderang. "Jam berapa, Mas?" bukannya menjawab, Syifa malah balik bertanya, ia menatap Yaksa yang segera meraih tangan dan meremas-remas tangan Syifa dengan lembut. "Nggak penting itu, kamu istirahat dulu. Aku udah telepon si Afi."Syifa menggeleng lemah, kasian Afi kalau harus jaga klinik seorang diri. "Kamu kuat jalan emang? Kamu demam tinggi tadi, Sayang."Mata Syifa berubah tajam, ditatapnya Yaksa dengan kesal. "Salah siapa kalo begini?" salak Syifa galak. Yaksa pura-pura cemberut, ia meremas-remas tangan Syifa dengan lembut. "Salah aku, Sayang. Tapi aku tanggungjawab, kan?
Dernière mise à jour : 2026-04-28 Read More