Angin malam masih terasa dingin ketika Indra dan Dina meninggalkan rumah itu. Langkah mereka tidak terlalu cepat, tetapi jelas tidak santai. Dina masih menggenggam tangan Indra erat, seolah takut jika ia melepaskannya, semua yang baru saja terjadi akan kembali menelannya.Indra tidak langsung bicara. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya bergerak cepat, menyusun ulang semua yang baru saja terjadi. Ini bukan lagi sekadar konflik antar kelompok kecil, ini sudah menyentuh sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.“Indra…” suara Dina pelan, sedikit bergetar, namun berusaha ditahan.Indra melirik sekilas tanpa menghentikan langkahnya. “Kamu aman sekarang,” ucapnya datar, tetapi nada suaranya cukup untuk menenangkan.Dina menelan ludah. “Mereka… bukan orang biasa,” lanjutnya, kali ini lebih serius.Indra berhenti.Langkahnya terhenti begitu saja di bawah lampu jalan yang redup. Ia perlahan menoleh ke arah Dina, menatapnya beberapa detik, seolah memastik
اقرأ المزيد