Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Indra tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak berubah, namun ada sesuatu di dalamnya yang bergerak pelan. Bukan emosi yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang selama ini ia tekan, ia kubur, dan ia paksa untuk tidak muncul ke permukaan.Hansen memperhatikan perubahan kecil itu dengan saksama. Senyumnya tidak hilang, justru semakin tipis dan penuh arti. Ia tahu ia menyentuh sesuatu yang tepat. Sesuatu yang bukan sekadar luka, tetapi juga kekuatan yang belum sepenuhnya digunakan.“Diam kamu beda dari yang lain,” ucap Hansen pelan sambil memiringkan kepala, matanya mengunci Indra tanpa berkedip. “Biasanya orang langsung marah, atau langsung menyerang,” lanjutnya dengan nada santai, seolah sedang membahas hal ringan.Indra menarik napas perlahan. Dadanya naik turun dengan ritme yang mulai terkontrol. Ia tidak mengalihkan pandangan, tetap menatap lurus ke arah Hansen, seolah ingin mema
اقرأ المزيد