مشاركة

BAB 55

مؤلف: Jw Hasya
last update تاريخ النشر: 2026-04-27 21:06:53

Cahaya lilin di ruang baca pribadi Allard menari-nari di dinding yang dipenuhi deretan buku tua bersampul kulit. Ruangan itu biasanya berbau debu sejarah dan tinta kering, namun malam ini, aroma melati yang melekat pada kulit Satta mendominasi udara, memicu sesuatu yang liar di dalam dada Allard yang selama ini tertahan oleh beban mahkota.

Allard menutup pintu kayu jati itu dengan satu tendangan tumitnya, menguncinya rapat. Ia tidak peduli jika ada pelayan yang lewat di koridor. Saat ini, hanya
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (4)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
wah bakal ada allard junior kah
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
wahh... babak baru dimulai.. semoga kalian tak terpisahkan
goodnovel comment avatar
Iin Huang
peperangan sesungguh ny akan segera di mulai. smngt Allard
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 105

    Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 104

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   Bab 103

    Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 102

    Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 101

    Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 100

    Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 44

    Langkah kaki mereka membelah salju yang kian menebal, meninggalkan jejak-jejak yang segera terhapus oleh amukan badai. Di belakang mereka, lonceng peringatan istana Alderaan mulai bertalu-talu, memecah kesunyian malam dengan dentang logam yang mencekam. Satta menoleh ke belakang, melihat siluet ist

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 43

    Satta merasakan seluruh sendi-sendinya meluruh ke lantai kayu yang dingin. Di ambang pintu, Permaisuri Viona berdiri tegak bak dewi kematian yang dibalut sutra ungu gelap. Cahaya obor dari para pengawal di belakangnya menciptakan bayangan panjang yang seolah mencekik seisi ruangan.“Permaisuri ...

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 42

    “Satta kau dari mana saja? Barusan Permaisuri mencarimu.” Maria berucap saat sang putri berjalan menyelinap masuk dalam kamar. “Ini sudah jam berapa? Kau baru masuk kamar, dari mana kau?” “I-ibu, tidak. Aku hanya sekadar mencari angin di luar. Cuaca saat ini agak panas,” tepisnya. Maria menatap

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BA 41

    Ciuman itu awalnya lembut, sebuah pelampiasan rindu yang tertahan oleh jeruji dan rantai besi. Namun, suhu di ruangan lembap itu mendadak naik. Oksigen seolah menipis saat pagutan mereka semakin dalam dan menuntut. Allard, meski tubuhnya masih lemas pasca demam, merengkuh pinggang Satta dengan pose

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status