Sore itu, di hari yang sama, setelah jam kerja usai, Dewi dan Arkan berangkat ke rumah sakit tempat Nara dirawat. Saat sampai di kamar Nara, Mbak Ayu tampak menaikkan alis—sedikit terkejut karena Dewi malah datang bersama pria asing. “Mbak Ayu, ini … atasanku di kantor, Pak Arkan. Pak Arkan datang untuk mewakili kantor menjenguk Nara.” Wajah Mbak Ayu langsung berangsur hangat. “Oh, begitu. Mari, Pak, silakan masuk. Duduk di sini, Pak," ucap Mbak Ayu tergagap ramah, buru-buru menggeser satu-satunya kursi plastik di dekat ranjang agar Arkan bisa duduk. "Terima kasih," Arkan masuk dan mendekati ranjang Nara. Pandangan Arkan kini lekat tertuju pada gadis remaja yang terbaring lemah di atas kasur. Perban yang cukup tebal masih melingkari kepala gadis itu. Wajah Nara tampak pucat, dengan beberapa selang medis yang terhubung ke tubuh kurusnya. Detik itu juga, ada denyut nyeri yang tajam menghantam dada Arkan. Rasa bersalahnya merayap naik, mencekik tenggorokannya. Remaja ini
Read more