“Hai, Dewi!” Anita melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat. Wanita itu lalu berjalan mendekat ke arah Dewi. “Kaget ya, aku bisa muncul di sini?”Dewi yang masih duduk di kursinya terperangah—kaget, senang, canggung, bercampur menjadi satu di wajahnya. “Jelas aku kaget, Nit! Kamu ….”“Aku bakal jadi penerus Mbak Eka di sini. Beberapa hari lalu aku direkomendasikan untuk pindah ke kantor ini. Masih satu perusahaan induk, makanya aku bisa dengan mudah lolos proses seleksi.” Anita tersenyum cerah.Dewi berdiri. Senyumnya berubah menjadi tawa kebahagiaan. “Ya ampun, jadi kita satu kantor?”Anita mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, bosnya mana? Tadi aku disuruh menghadap dia kalau udah datang.” Anita—wanita yang rambutnya diwarnai coklat penuh gaya itu memindai sekitar. Dia menyempatkan diri mengangguk sopan pada Hani, Rian dan Langit.“Pak Arkan? Ruangannya di sana.” Dewi menunjuk pintu ruangan Arkan yang tertutup rapat.“Oke. Makasih ya. Aku … kayaknya perlu rapi-rapi dulu deh. Bosn
Read more