“Di mana?” Pria itu menyela cepat. “Di mana mahar dari saya?” Jantung Dewi seketika bagai terhunus pedang. Arkan sudah tahu. Tapi … bagaimana bisa? “Kamu nggak bisa jawab?” suara Arkan terdengar dingin dan tajam. Nada interogasi yang sama dengan yang sering dia ucapkan di tengah meeting. Dan detik ini, suara itu keluar dari bibir Arkan, sebagai seorang suami. Dewi menelan ludah. Tenggorokannya mendadak kering. “Mas ….” “Jawab saya, Wi.” potong Arkan tajam. Nadanya sedikit membentak. Dewi menunduk dalam, tangannya mulai gemetar. Pada satu sisi, dia tidak ingin menyakiti Arkan. Tetapi di sisi lain, kondisi keluarganya yang membutuhkan banyak uang, tak ubahnya aib yang tak ingin Dewi umbar pada siapa pun. Termasuk pada pria yang mungkin akan berkata bahwa keluarga Dewi adalah beban, dan bukanlah tanggung jawabnya. “Dijual?” tanya Arkan, seketika membuyarkan lamunan Dewi. Dewi seketika bungkam. Tak pernah dia sangka, pria yang biasanya menguasai satu ruang meetin
Last Updated : 2026-05-04 Read more