Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Read more