MasukBeberapa hari berlalu. Bagi Sri, hari Senin adalah hari yang penuh dengan kesibukan administratif.
Setelah menghabiskan beberapa jam di sekolah untuk mengurus berkas-berkas kelulusan pasca-ujian, ia menaiki ojek online untuk pergi bekerja di apartemen Sagara seperti biasa.Sementara itu, di sebuah warung kopi di dekat area sekolah Sri, Pak Surya sedang duduk dengan rokok yang terselip di jemarinya.Matanya yang merah akibat kurang tidur terus memikirkan sosok priaTiga hari berlalu. Gedung pertemuan utama SMA Tunas Bangsa tampak megah dengan dekorasi bernuansa formal. Ratusan siswa berseragam rapi lengkap dengan toga kelulusan memenuhi kursi-kursi yang telah diatur rapi. Riuh rendah obrolan dan tawa bangga dari para orang tua memenuhi seisi ruangan. Namun, bagi Sri, semua kemegahan ini terasa hambar, seperti panggung sandiwara yang sebentar lagi tirainya akan ditutup paksa. Pagi ini, Sri tidak lagi mengenakan seragam sekolah biasanya. Di balik jubah toga hitam berbahan satin halus dengan samir beludru berwarna hijau tua khas SMA Tunas Bangsa, ia mengenakan kemeja putih katun berkerah tegak yang dipadukan dengan rok span hitam selutut yang sangat rapi. Rambut hitamnya yang panjang tidak lagi dikuncir asal-asalan, melainkan disanggul modern dengan gaya sederhana namun menyisakan keanggunan alami yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya dipoles riasan tipis, menonjolkan sepasang mata jernih dan tu
Malam semakin larut, namun kesunyian yang merayap di dalam rumah kontrakan itu justru terasa memekakkan telinga. Pendar lampu bohlam kuning yang temaram di ruang tamu seolah mempertegas kemalangan yang baru saja porak-poranda. Bau minyak tawon dan antiseptik menguar, bercampur dengan aroma debu dari sisa-sisa kekacauan siang tadi. Sri bergerak dalam diam, mengompres memar di pipi Pak Surya dengan gerakan yang mekanis. Tidak ada kelembutan, tidak pula ada kemarahan yang meledak-ledak. Tangannya hanya bergerak menyelesaikan tugas, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah luka-luka di wajah pria paruh baya itu. Selesai mengobati, Sri berdiri tanpa suara, membiarkan Pak Surya perlahan merebahkan tubuhnya yang ringkih di atas sofa lusuh yang sebagian busanya sudah melesak kempis. Sri beralih memunguti pecahan mangkuk kaca dan pot tanaman di sudut ruangan. Setiap gesekan sapu pada lantai semen yang dingin seolah bergema di dalam kepalanya yang k
“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe
Ketegangan di rumah kontrakan belum sepenuhnya mereda sejak insiden selebaran dan gaun tempo hari. Hubungan Sri dengan Bu Sulastri masih terasa canggung dan diselimuti keheningan yang menyesakkan.Namun, di tengah situasi rumah yang mendingin, sebuah paket untuk Sri tanpa nama pengirim datang. Ketika Sri membuka paket tersebut di kamarnya, dia terlonjak kaget.Aroma bangkai tikus menyebar ke seluruh kamar sempit, membuat Sri sangat mual dan hampir muntah. Sri tahu ini adalah sebuah teror. Tapi dari siapa?Ketika gadis itu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya, dia mengambilnya.[Temui aku di kafe Le Petit, Jalan Diponegoro. Jam 3 sore. Jangan coba-coba mangkir kalau kamu tidak ingin ibumu tahu hubungan rahasiamu dengan Sagara.]Sri tidak perlu menebak dua kali siapa yang mengirimkan paket itu. Gaya bahasa yang angkuh dan penuh ancaman itu sudah pasti milik Aurora Natawijaya.Meskipun tahu ini bisa jadi adalah sebuah j







