Selepas jam istirahat dan makan siang, Sri kembali ke rutinitasnya. Menyusun notulen, mengirimkan keputusan rapat, menghubungi kepala divisi, dan menyusun agenda kunjungan proyek. Di dalam ruangan, pak Hendra baru menyerahkan setumpuk berkas. “Tuan, laporan-laporan ini sudah disusun berdasarkan prioritas,” ujarnya sambil membagi dua berkas itu. Sagara melirik berkas itu sekilas dan mengangguk. “Kalau ada berkas yang sudah diperiksa Sri, langsung kirim saja.” Pak Hendra tertegun sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk. “Baik, Tuan.” Meski Sri masih baru, dia melihat bagaimana Sri bekerja dan gadis itu memang layak untuk dipercaya. Keluar dari ruangan Sagara, pak Hendra berdiri sejenak di samping meja Sri, membuat gadis itu mendongak. “Kebetulan, Pak Hendra … ada berkas yang harus Anda periksa sebelum dikirim ke pak Sagara,” ujar Sri sambil berdiri. “Ah, nggak usah. Kamu langsung kirim saja pada tuan. Sangat jarang tuan Sagara bisa percaya dengan orang. Kinerjamu juga bagus, Sri.
Read more