Nama itu menghantam seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian, tidak besar dan keras, tetapi cukup untuk membuat segalanya retak.Tubuh Nicolle menegang dari ujung kepala sampai telapak kaki. Satu per satu, jemarinya melepaskan genggaman pada tangan Raiden yang masih melingkari dadanya.Wanita itu mundur setengah langkah, cukup untuk membalikkan badan, dan menatap Raiden.“Bukankah saya sudah pernah mengatakan kalau saya adalah Nicolle?” tanya Nicolle. “Saya bukan Naomi.”Raiden tidak langsung menjawab.Pria itu hanya menatap Nicolle lekat, tidak berkedip, dengan tatapan yang berbeda dari semua tatapan sebelumnya.Tidak ada kebimbangan di sana. Hanya ada keyakinan yang membuat tengkuk Nicolle perlahan terasa dingin.Jantung Nicolle berdetak kacau. Untuk beberapa detik, dia bahkan lupa cara bernapas dengan benar.Raiden mengangkat kedua tangannya, memegang bahu Nicolle den
Read more