LOGINHalo, maaf yaa kemarin libur update karena aku sedang tidak enak badan. Teman-teman jaga kesehatan selalu yaa ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
Dada wanita itu langsung terasa sesak.Jari-jari wanita itu mengencang di tali tas laptop, sementara napasnya mulai memburu di balik masker yang menutupi setengah wajahnya.Beberapa detik Naomi hanya diam membelakangi Raiden.Perlahan Naomi menoleh. Tatapan wanita itu jatuh pada tangan Raiden yang masih menggenggam pergelangan tangannya erat, seolah pria itu takut Naomi benar-benar pergi menjauh lagi.Naomi menghempaskan tangan Raiden.“Kamu tidak mengakuinya saat dia masih di dalam kandunganku, bahkan kamu menghina dia sebagai anak haram!” desis Naomi penuh penekanan.Raiden membeku.Wajah pria itu seketika memucat. Raiden mendadak lemas, seolah seluruh tenaganya direnggut hanya dengan satu kalimat Naomi tadi.Ingatan tentang hari itu kembali menghantam kepalanya tanpa ampun.Tatapan Naomi yang penuh luka, tangisan yang mati-matian Naomi tahan, dan dirinya s
Jam di dinding kamar Vance menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit ketika Aveline akhirnya menyerah pada kantuknya. Aveline tertidur pulas di sofa panjang dekat jendela. Tubuh kecil itu meringkuk di balik selimut sambil memeluk stiker kelinci yang sejak tadi tidak dilepaskannya. Rambutnya sedikit berantakan menutupi dahi. Naomi berdiri di samping sofa beberapa detik lebih lama. Tatapannya melunak. Perlahan wanita itu membenarkan posisi selimut Aveline sampai menutupi bahunya, lalu menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah putrinya. “Ave tidur yang nyenyak ya,” bisik Naomi lirih. Naomi membungkuk, mengecup kening putrinya lama sebelum akhirnya berdiri lagi. Pandangan Naomi sempat berpindah pada Vance yang masih terbaring diam di ranjang perawatan. Pria paruh baya itu masih belum sadar. Namun entah kenapa, ruangan tadi terasa jauh lebih hidup sejak ada Aveline di sana. Naomi mengembuskan napas pelan lalu mengambil tas dan laptopnya dari meja kecil dekat
Dokter itu melirik Naomi, seolah memastikan apakah wanita itu boleh mendengar tentang kondisi Vance atau tidak.“Dia aman,” sela Brandon meyakinkan.Dokter itu akhirnya menganggguk.“Jenderal Vance sudah melewati masa kritis.”Naomi mengembuskan napas lega.Namun sebelum rasa lega itu benar-benar terbentuk, dokter tersebut melanjutkan kalimatnya.“Tetapi sampai sekarang beliau masih belum sadarkan diri.”Naomi terdiam beberapa detik di depan pintu ruang VVIP itu.Setelah dokter itu pergi, Brandon mempersilakan, “Silakan.”Naomi mengangguk sambil mengerjapkan mata beberapa kali.Wanita itu menggenggam erat handle pintu, sementara napasnya terasa sedikit berat di balik masker.Di sampingnya, Aveline mendongak bingung.“Mama?” panggil gadis kecil itu pelan.Naomi akhirnya tersadar dari lamunannya. Wanita it
Naomi mengangkat kedua alisnya. “Pindah rumah sakit?” ulang wanita itu pelan, jelas terkejut. Tatapan Naomi langsung beralih pada Brandon, meminta penjelasan lebih lanjut. “Tidak dijelaskan alasan dan ke mana Mayor dipindahkan. Data seorang Mayor pasti bersifat rahasia,” jelas Brandon. Naomi terdiam beberapa detik. Wanita itu melirik Aveline yang masih berdiri di depannya dengan wajah kecewa. Naomi mengembuskan napas perlahan. “Mama juga tidak tahu, Ave.” Aveline langsung menegakkan badannya dengan wajah penuh solusi yang dia pikir sangat jenius. “Coba telepon, Ma!” usul Aveline. Naomi refleks melirik ponselnya sendiri yang tergeletak di atas meja. Brandon ikut melirik, diam-diam penasaran apakah Naomi benar-benar akan melakukannya. Aveline menggu
Brandon menatap pintu kamar Naomi yang masih tertutup rapat.Tidak ada suara dari balik pintu itu.Brandon teringat ucapan Naomi semalam bahwa wanita ingin tidur lama sebelum berangkat ke Lavel.Brandon melirik jam di dinding. Pukul lima lewat tujuh menit.Lalu melirik ke bawah.Aveline mendongak ke arahnya dengan mata berbinar penuh harap dan pipi yang menggemaskan seolah sudah tahu bahwa wajah itu adalah senjata paling ampuh untuk mendapatkan keinginannya.“Bagaimana, Paman?”Brandon mengusap wajahnya kasar.Beberapa menit kemudian, Aveline sudah duduk rapi di kursi belakang mobil dengan sabuk pengaman terpasang.Gadis kecil itu tersenyum lebar.Brandon menghidupkan mesin sambil menatap pintu rumah sekali lagi dari kaca spion.“Paman Blandon, cepat!” Aveline mengayunkan kakinya.“Paman tahu.” Brandon menarik tuas pe
Naomi menatap Lucy beberapa detik tanpa berkedip.Senyum tipis di bibir wanita itu tidak berubah sedikit pun, tetapi justru itulah yang membuat Lucy perlahan kehilangan kata-kata.Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.Lucy yang biasanya selalu pandai memainkan ekspresi manis dan suara lembut kini hanya berdiri kaku dengan tenggorokan tercekat.Jemari wanita itu mencengkeram tas kecil di tangannya semakin erat.Sementara Naomi sama sekali tidak berniat melanjutkan percakapan itu.“Aku lelah, Lucy,” ucap Naomi akhirnya dengan suara datar. “Jadi kalau kamu mau mengancamku, lakukan lain kali saat aku tidak mengantuk.”Setelah itu Naomi langsung berbalik.Lucy tidak mengejarnya.Wanita itu hanya terpaku sambil menatap punggung Naomi yang berjalan menjauh tanpa sedikit pun terlihat terganggu.Ruang residen masih cukup ramai meski hari sudah larut







