Mendengar pertanyaan polos yang bergetar dari bibir Helena, Arthur mendadak menghentikan tatapan kaku di wajahnya.Sedetik kemudian, dia terkekeh rendah. Sebuah tawa bariton yang hangat dan sangat jarang terdengar di dalam ruang kerja yang biasa dipenuhi oleh ketegangan angka-angka saham itu mengalir begitu saja, memecah kecemasan yang membekukan atmosfer malam."Kau benar-benar luar biasa, Helena," ujar Arthur, sisa-sisa kekehan hangatnya masih tertinggal di sudut bibir.Helena mengerjapkan matanya yang masih basah, tampak sedikit terluka. "Kenapa Anda justru tertawa, Tuan? Saya sedang menanyakan hal yang menyangkut sisa hidup saya di kastil ini.""Aku tertawa karena menganggap pertanyaanmu itu terlalu lambat, Helena," Arthur menggelengkan kepala perlahan, kedua tangannya berpindah dari pipi untuk menggenggam jemari Helena yang terasa dingin."Kau mempertanyakan hal yang seharusnya sudah kau sadari sejak lama. Apakah kau pikir semua tindakan perlindungan, pengawalan ketat dari Henry,
Read More