/ Zaman Kuno / Dalam Dekapan Panas Tuan Duke / BAb 140: Pengakuan Arthur

공유

BAb 140: Pengakuan Arthur

last update 게시일: 2026-06-06 01:20:18

Mendengar pertanyaan polos yang bergetar dari bibir Helena, Arthur mendadak menghentikan tatapan kaku di wajahnya.

Sedetik kemudian, dia terkekeh rendah. Sebuah tawa bariton yang hangat dan sangat jarang terdengar di dalam ruang kerja yang biasa dipenuhi oleh ketegangan angka-angka saham itu mengalir begitu saja, memecah kecemasan yang membekukan atmosfer malam.

"Kau benar-benar luar biasa, Helena," ujar Arthur, sisa-sisa kekehan hangatnya masih tertinggal di sudut bibir.

Helena mengerjapkan ma
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 209: Akhir Cerita Kita

    Fajar berikutnya menyingsing dengan warna keemasan yang paling megah di atas langit wilayah barat. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar kamar tidur utama, menyiram ranjang sutra tempat Helena bersandar dengan kehangatan yang murni.Di dalam dekapannya, sang bayi mungil telah terlelap dengan tenang setelah tangisan pertamanya yang memecah malam.Arthur duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja linen longgar tanpa lencana militer yang kaku. Tatapan mata kelabunya tidak lagi memancarkan kegilaan otoritas perang, melainkan kedamaian sejati yang begitu penuh. Tangannya yang besar bergerak perlahan, mengelus jemari mungil anaknya yang menggenggam erat ujung kain selimut."Kael Alexander Grosvenor," bisik Arthur rendah. "Itu adalah nama yang kuat untuk seorang penerus tanah barat. Kael, sang pejuang yang murni, dan Alexander, sang pelindung umat manusia."Helena menyunggingkan senyuman manisnya yang teramat tulus, mengecup puncak kepala bayinya yang mulai ditumbuhi rambut hitam hal

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 208: Kelahiran sang Buah Hati

    Malam pun jatuh dengan keheningan yang teramat mencekam di atas langit wilayah barat, bintang-bintang bertaburan dengan sangat indah tanpa terhalang awan sedikit pun.Tepat pada jam dua dini hari, sebuah erangan keras dan sarat akan rasa sakit yang nyata memecah kesunyian kamar tidur utama Kastil Grosvenor. Helena terbangun dengan sentakan hebat, cairan ketuban yang hangat seketika pecah membasahi permukaan ranjang sutra hitam mereka."Arthur... ahh! Sakit... ini waktunya! Bayinya... bayinya akan keluar!" jerit Helena dengan tangan yang mencengkeram erat lengan baju seragam Arthur hingga kainnya robek beberapa inci.Arthur seketika melompat dari tempat tidur dengan aksi taktis yang teramat cepat laksana kilat badai, deg-degan di dadanya bergemuruh hebat namun fokus kepemimpinannya tetap terjaga kokoh di tempatnya.Dia membuka pintu kamar dengan bantingan keras, berteriak lantang memecah keheningan koridor sepi untuk memanggil seluruh tim bidan dan pengawal yang telah bersiap selama be

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 207: Menghitung Hari Menuju Altar Kehidupan

    Bulan demi bulan berlalu dengan kesibukan domestik yang kian masif di dalam Kastil Grosvenor. Usia kandungan Helena kini telah menginjak angka sembilan bulan penuh, perutnya sudah tampak sangat besar dan bulat sempurna, menandakan waktu kelahiran sang pewaris takhta sudah berada di ambang pintu fajar.Seluruh aktivitas klinik kota bawah terpaksa dihentikan total oleh Arthur; dia memindahkan seluruh peralatan medis terbaik dan tiga bidan senior paling berpengalaman di kerajaan untuk tinggal menetap di paviliun sayap timur kastil.Bella memimpin barisan pelayan baru dengan kesibukan yang teramat luar biasa setiap harinya, menyiapkan kain-kain linen bersih, air hangat, dan pakaian bayi berbahan sutra lembut yang disulam khusus dengan lambang singa emas Grosvenor."Pastikan semua lampu minyak di koridor sayap barat tetap menyala sepanjang malam!" perintah Bella dengan berkacak pinggang di depan para pelayan di selasar tengah."Kita tidak boleh membiarkan ada satu pun jalur yang gelap jika

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 206: Kabar yang Mengejutkan

    Dua bulan telah berlalu sejak badai pemberontakan di perbatasan utara berhasil dipadamkan dengan tangan besi. Kastil Grosvenor kini dilingkupi oleh kedamaian industri yang stabil, namun pagi itu, sebuah riak domestik yang jauh lebih dahsyat mengguncang ketenangan sang Duke.Di dalam kamar tidur utama yang masih remang-remang, Helena terbangun dengan rasa mual yang teramat hebat menekan dadanya. Dia bergegas bangkit dari ranjang sutra, berlari kecil menuju wastafel porselen di sudut kamar untuk memuntahkan cairan bening dari perutnya yang mendadak bergolak.Arthur seketika terjaga dari tidurnya dengan aksi taktis yang sigap. Dia melompat dari tempat tidur, menghampiri istrinya dengan raut wajah penuh kepanikan, lalu menangkup bahu mungil Helena sembari memijat tengkuk lehernya yang sensitif dengan sisa-sisa kelembutan malam mereka."Helena, ada apa? Apakah kau keracunan obat dari klinik?" tanya Arthur, suaranya bariton rendah penuh kecemasan protektif saat menyeka sudut bibir istrinya

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 205: Konfrontasi di Garis Depan

    Fajar keesokan harinya menyingsing dengan warna merah darah di langit perbatasan utara.Arthur memimpin langsung pasukan kavalerinya menembus kabut tebal, mengabaikan draf saran dari Henry agar sang Duke tetap berada di balik tembok kastil yang aman demi keselamatan pengantin barunya.Di depan barikade jalur kereta api yang rusak, ratusan milisi pemberontak telah bersiap dengan senapan laras panjang dan obor api di tangan mereka.Seorang pemimpin pemberontak, mantan perwira militer faksi Vane bernama kapten Miller, melangkah maju menunggangi kudanya dengan aksi yang menantang di hadapan Arthur."Duke Arthur! Kebijakan barumu mengenai penyitaan aset bangsawan dan kontrol mutlak atas tambang adalah bentuk tirani yang tidak akan kami terima! Jika kau tidak memulihkan hak komoditas kami, jalur utara ini akan menjadi kuburan bagi pasukan Grosvenor!"Arthur menatap Miller dari atas kuda hitam besarnya dengan pandangan meremehkan, tidak ada sedikit pun gurat ketakutan atau keraguan di wajahn

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 204: Singa yang Mengambil Alih Kemudi

    Ketegangan di ruang dewan distrik mencapai puncaknya ketika Arthur mengambil alih draf kepemimpinan proyek secara sepihak, memotong seluruh jalur birokrasi aristokrat kuno yang lambat dan memuakkan.Dia lalu berdiri di depan papan dewan, mencoret nama-nama bangsawan faksi Vane yang tidak kompeten dengan goresan arang hitam yang kasar, lalu menggantinya dengan nama-nama insinyur muda yang dia pilih berdasarkan efisiensi kerja nyata di lapangan tambang."Mulai hari ini, manajemen operasional proyek kereta utara berada di bawah pengawasan langsung kantor Duke Grosvenor," tegas Arthur, dengan jemarinya mengetuk meja dengan ritme konstan yang intimidatif."Tidak ada lagi komisi untuk para Lord, tidak ada lagi potongan pajak ilegal untuk faksi wilayah. Setiap buruh tambang akan dibayar penuh langsung dari kas pusat."Mendengar kebijakan baru tersebut, beberapa Lord berbisik-bisik dengan raut wajah penuh penolakan, menganggap tindakan Arthur terlalu radikal dan mengancam hak istimewa kaum ba

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 71: Jebakan yang Gagal

    Tanpa membuang waktu, dia berlari kecil menuju pintu penghubung ruang kerja tempat Arthur baru saja masuk.“Tuan Duke!” bisik Helena dengan nada mendesak.Arthur berbalik, lalu alisnya bertaut melihat rona pucat di wajah pelayannya. “Ada apa? Kau terlihat seperti melihat hantu.”“Bukan hantu, Tuan,

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 63: Perang Kertas di Ruang Kerja

    Arthur berjalan dengan punggung tegak, dibantu oleh tongkat dan mengabaikan denyut menyakitkan di dadanya yang seolah ingin meledak setiap kali ia menarik napas.Helena mencoba mendekat untuk menawarkan bahunya, namun Arthur hanya meliriknya dengan tatapan dingin yang bermakna satu hal: jangan rend

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 6: Malam Penyerahan

    Badai di luar kastil Grosvenor tidak sebanding dengan kemelut yang menghantam dada Helena. Bayangan wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit, dikelilingi bau karbol dan suara mesin medis yang dingin, terus menghantuinya.Seratus koin emas. Harga yang mustahil digapai oleh seorang pelayan, nam

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 5: Tak ada Pilihan lain

    “T-Tuan Arthur ….”Tubuh Helena menggigil hebat. Meski uap panas masih mengepul di ruangan itu, ia merasa seolah disiram air es. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan sisa uap yang menempel di wajahnya yang kini merah padam.“Kenapa kau berlagak terkejut?” sahut Arthur dengan nad

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status