Kata-kata tegas dari Henry terus terngiang-ngiang di dalam kepala Arthur sepanjang sisa hari itu, laksana palu hakim yang terus memukul dinding egonya hingga retak.Malam harinya, dengan langkah kaki yang terasa teramat berat dan ragu-ragu, Arthur akhirnya berjalan menyusuri koridor sepi menuju kamar tidur utama. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni besar selama beberapa menit, menatap ukiran dinginnya sebelum akhirnya memutar kenop pintu perlahan.Klek.Di dalam kamar yang temaram, Helena sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidurnya, menatap kosong ke arah api perapian yang mulai meredup. Mendengar suara pintu dibuka, dia menoleh dengan wajah yang tampak kuyu, lelah, dan defensif. Dia sudah bersiap untuk konfrontasi ketat lainnya.Namun, aksi Arthur berikutnya membuat kemarahan Helena seketika surut laksana air surut di pantai barat. Sang Duke menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan lambat mendekatinya.Tanpa sepatah kata
続きを読む