LOGINKereta kuda bermesin uap ringan itu berguncang pelan saat roda-roda besinya menggilas jalanan berbatu menuju pusat kota. Di dalamnya, aroma kulit kursi yang mewah bercampur dengan bau minyak mesin dan cerutu mahal.Arthur duduk bersandar, mengenakan setelan wol hitam yang pas di tubuhnya, sementara tangan kanannya sesekali meraba dada, tempat luka tusukan itu kini mulai menutup, meninggalkan bekas yang masih terasa nyeri jika dia bergerak terlalu mendadak.Di depannya, Henry duduk dengan punggung tegak, matanya terus waspada menatap jendela kecil yang tertutup tirai beludru.“Anda tampak lebih hidup hari ini, Tuan Duke,” ujar Henry membuka percakapan, memecah kesunyian yang hanya diisi oleh derap langkah kuda di luar.Arthur menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri dengan udara kota yang mulai berpolusi.“Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik selimut sementara proyek batubara ini terancam oleh birokrasi dan keserakahan Joseph. Satu bulan adalah waktu yang s
Joseph melangkah satu tindak lebih dekat, memangkas jarak hingga bayangan tubuhnya yang besar menelan sosok Helena yang mungil. Dia memiringkan kepalanya, membiarkan cahaya lampu gas yang berkedip di dinding menyoroti keraguan di mata Helena.Senyum di bibirnya tidak lagi terasa ramah; itu adalah senyum seorang pria yang baru saja menemukan kartu as dalam permainan judi yang tinggi.“Daya ingatku adalah salah satu aset terbaik dalam bisnis, Helena. Dan aku berani bertaruh separuh tambang batubaraku bahwa wajah ini pernah kulihat sebelumnya,” bisik Joseph dengan halus namun tajam.Helena meremas tumpukan handuk di pelukannya, berusaha sekuat tenaga agar lututnya tidak goyah. “Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Tuan Duke. Saya hanya gadis desa dari wilayah timur. Anda pasti salah orang.”“Salah orang? Tidak, aku rasa tidak,” Joseph terkekeh, suara tawa yang membuat bulu kuduk Helena berdiri.“Beberapa tahun yang lalu, aku memiliki urusan pengapalan di pelabuhan selatan. Di sana ad
Helena menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan beratnya kebohongan yang baru saja dilemparkan Arthur ke udara ruang makan yang megah itu. Seluruh saraf di tubuhnya menegang saat dia terpaksa mengangguk pelan, memberikan konfirmasi bisu atas status pernikahan palsunya di hadapan Grand Duke Joseph.Tatapan para pelayan lain di ambang pintu terasa seperti jarum yang menusuk kulitnya; mereka semua tahu Helena hanyalah seorang gadis desa yang datang sendirian, namun tidak ada yang berani membantah kata-kata sang Duke.“Begitu rupanya,” gumam Joseph dengan nada yang masih menyimpan keraguan besar. Dia menyesap sisa tehnya, lalu menyandarkan punggung pada kursi mahoni. “Pria yang sangat beruntung. Kuharap dia memberikan perlindungan yang setimpal dengan kecantikan istrinya.”Arthur tidak melepaskan tangannya dari bahu Helena sampai Joseph mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan dokumen di atas meja.“Dia memberikan lebih dari sekadar perlindungan, Joseph. Sekarang, mari kita berhenti
Di pagi hari ini, kesibukan di dapur dan ruang makan utama mencapai puncaknya. Pelayan berlalu-lalang membawa nampan berisi roti panggang, selai jeruk dari Seville, dan daging asap yang aromanya memenuhi koridor.Kedatangan Grand Duke Joseph bukan sekadar kunjungan ramah tamah; dia adalah penguasa wilayah tetangga yang memegang kunci distribusi batubara di perbatasan, sosok yang bisa menjadi kawan paling setia atau lawan paling mematikan bagi Arthur.Helena berdiri di sudut ruangan dengan seragam pelayan yang kaku. Jantungnya masih berdegup kencang jika dia mengingat apa yang terjadi di ruang kerja semalam.Bekas kemerahan di lehernya telah dia tutupi dengan bedak tipis dan kerah tinggi, namun rasa panas dari ciuman Arthur seolah masih tertinggal di kulitnya.Pintu besar terbuka, dan Arthur melangkah masuk bersama seorang pria jangkung dengan janggut rapi dan pakaian berburu yang mewah. Itulah Joseph. Dia memiliki senyum yang ramah, namun matanya tajam seperti elang yang sedang mengin
Helena melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, kakinya terasa lemas seolah lantai marmer di bawahnya telah berubah menjadi rawa yang siap menelan tubuhnya. Ruang kerja itu hanya diterangi oleh perapian yang mulai meredup dan satu lampu meja perak.Di sana, di balik meja kayu mahoni yang luas, Arthur duduk dengan keanggunan seorang pemangsa. Dia menyesap anggur merah dari gelas kristal, gerakannya lambat seolah waktu di luar sana tidak sedang meledak karena amarah Selene.“Tutup pintunya, Helena. Dan jangan berdiri di sana seolah kau sedang menunggu hukuman gantung,” ucap Arthur dengan suara rendahnya.Helena menutup pintu dengan tangan gemetar. Dia tidak mendekat, tetap terpaku di dekat dinding yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. “Tuan Duke, saya ... saya tidak bisa melakukan ini lagi.”Arthur menurunkan gelasnya, matanya yang kelabu menatap tajam ke arah Helena. Dia sedikit meringis saat menggerakkan bahunya, karena luka di dadanya akibat insiden lalu memang be
Selene berdiri mematung di sisi ranjang yang berantakan, jemarinya yang terbungkus sarung tangan renda meremas udara kosong. Wajahnya yang semula bersemu merah karena kemenangan, kini memucat seperti lilin yang hampir padam.Arthur melangkah pelan, mengitari Jaksa Miller yang masih kebingungan, lalu berhenti tepat di depan istrinya.“Kau terlihat kecewa, Selene. Bukankah seharusnya kau senang karena barang berhargamu tidak benar-benar hilang?”“Aku ... aku hanya yakin bahwa aku meletakkannya di sekitar sini, Arthur!” Selene mencoba mendapatkan kembali kendali atas suaranya, meski nada bicaranya gemetar.“Menarik,” sahut Arthur dengan nada sarkastik yang kental. Ia merogoh saku jasnya, namun bukan untuk mengeluarkan bros itu, melainkan hanya untuk merapikan lipatan kainnya.“Lucu sekali bagaimana kau begitu yakin hingga membawa Jaksa wilayah ke kamar pribadiku. Padahal, jika kita ingat kembali, kau jugalah yang membawa Helena ke kastil ini.“Kau bilang dia adalah perawat terbaik dari k
“Helena? Apa yang sedang kau lakukan di sini dengan suamiku?” tanya Selene dengan tatapan yang datar yang berhasil membuat jantung Helena berhenti berdetak.“Nyo-Nyonya. Sa-saya ….”Helena masih berdiri terpaku di dekat rak buku, tidak berani melangkah pergi sebelum benar-benar diusir, sementara Ar
Kegelapan di dalam kamar pelayan itu terasa pekat dan menyesakkan.Kamar itu sangat kecil, hanya cukup untuk satu ranjang kayu tunggal yang keras, sebuah lemari kecil, dan satu jendela dengan teralis besi yang menghadap ke arah tembok luar kastil.Helena berbaring telentang, seraya menatap langit-l
Malam hari telah tiba dan kini kedua pasangan suami istri itu sedang makan malam.Helena berdiri di sisi meja dengan posisi siaga, tangannya terbungkus sarung tangan kain putih yang bersih. Ia baru saja selesai menyajikan sup consommé yang bening dan hangat ke hadapan Duke dan Duchess.“Ayahku sang
Malam perjamuan telah tiba.Helena tampak berdiri di sisi tembok, kepalanya tertunduk, mengenakan seragam pelayan hitamnya yang sudah rapi kembali.Tidak ada yang tahu bahwa di balik kain kaku itu, tubuhnya masih terasa perih dan berdenyut akibat pergulatan di ruang pemandian beberapa jam lalu.Art







