ログインRuang strategi bawah tanah Kastil Grosvenor mendadak menjadi pusat gravitasi wilayah barat. Di tengah ruangan yang remang-remang oleh pendar lampu minyak dinding, sebuah meja kayu ek raksasa dipenuhi oleh draf peta taktis pertambangan dan jalur perbatasan utara yang mulai berdebu.Arthur berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu pada peta, sementara para perwira militer senior dan menteri distrik berkumpul di sekelilingnya dengan napas yang tertahan menahan ketegangan atmosfer ruangan."Pemberontak di perbatasan utara bukan sekadar buruh yang mogok kerja," sela Henry, menunjuk ke arah titik merah di draf peta perbatasan menggunakan ujung belati komandonya."Mereka dipimpin oleh sisa-sisa pengikut Lord Vane yang melarikan diri, menggunakan persenjataan ilegal yang diselundupkan dari pelabuhan timur untuk memblokade jalur kereta api komoditas kita."Arthur tidak terkejut, dia justru menyunggingkan sebuah senyuman miring yang sarat akan kalkulasi bisnis yang dingin dan kejam. "Mere
Roda kereta kuda belum sepenuhnya berhenti berputar di pelataran Kastil Grosvenor ketika Arthur melompat turun dengan aksi taktis yang tegas. Jubah bulan madunya telah berganti dengan seragam militer dinasti Grosvenor berwarna biru gelap yang kaku, lengkap dengan lencana singa emas bersilang pedang di bahu kirinya.Udara hangat pegunungan Cumberland seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin urusan negara yang pekat dan berbau mesiu. Di aula utama, dua utusan khusus dari Istana Buckingham sudah berdiri tegap, memegang gulungan perkamen berstempel lilin malam merah tua berlambang Raja."Tuan Duke Arthur Grosvenor," ujar salah satu utusan dengan suara bariton yang formal dan dingin."Yang Mulia Raja menitahkan Anda untuk segera mengonsolidasikan resimen infanteri cadangan barat. Pergerakan faksi pemberontak di perbatasan utara telah menghentikan pasokan komoditas batubara mahkota."Arthur merebut perkamen itu tanpa membalas tatapan sang utusan. Matanya yang kelabu membaca baris-baris
Fajar hari ketujuh pun menyingsing dengan sangat megah, membiarkan draf cahaya keemasan yang jernih menyapu bersih sisa-sisa kabut salju di puncak Pegunungan Cumberland.Semburat warna fajar itu menandakan berakhirnya masa pelarian romantis mereka di pondok pegunungan yang telah menjadi saksi bisu runtuhnya dinding ego dan trauma masa lalu.Kereta kuda mewah berlogo singa emas Grosvenor kini telah kembali terparkir dengan anggun di depan halaman pondok.Henry sudah berdiri tegap menanti di samping pintu kereta. Di lengannya, tersampir sepasang pakaian formal Duke dan Duchess yang baru, ditenun dari kain wol dan sutra terbaik yang sengaja dibawanya langsung dari lemari utama kastil.Arthur menuntun Helena keluar dari pintu pondok kayu dengan langkah kaki yang mantap, penuh wibawa seorang penguasa tertinggi yang telah terlahir kembali dengan jiwa yang utuh.Tidak ada lagi gumpalan trauma masa lalu, bayang-bayang kelam mendiang Duke
Malam terakhir di pondok pegunungan dihabiskan mereka dengan membuat api unggun kecil di halaman depan, menikmati langit malam yang dipenuhi oleh jutaan bintang yang bertaburan dengan sangat indah tanpa terhalang oleh asap jelaga industri kota London ataupun debu hitam batubara distrik barat.Mereka duduk berdampingan di atas selembar tikar wol tebal, membakar beberapa potong sosis daging hasil tangkapan siang tadi di atas bara api yang meletup-letup konstan.Tiba-tiba, Arthur mengeluarkan selembar surat bersegel lilin merah kementerian dari dalam saku mantel bulunya, sebuah surat penting mengenai sengketa saham perbatasan yang sempat dikirim oleh kurir Henry ke kota bawah bukit kemarin sore, namun baru sempat dia ambil dari tas logistiknya malam ini.Helena melirik draf kertas tebal itu dengan dahi berkerut, matanya memicing di bawah keremangan cahaya api unggun."Apakah itu dokumen penting dari dewan kementerian yang harus segera Anda tanda tangani, Art
Setelah puas menikmati kebersamaan intim mereka, sore harinya Arthur membawa Helena berjalan sedikit lebih jauh menuju sebuah danau air tawar kecil yang terletak di balik bukit pegunungan.Air danau itu begitu jernih laksana cermin raksasa yang memantulkan birunya langit barat, dikelilingi oleh jajaran pohon pinus yang mulai diselimuti salju tipis.Arthur membawa sebuah kail pancing kayu sederhana, sebuah kegiatan yang belum pernah dia lakukan sejak masih kanak-kanak sebelum ayahnya merenggut masa mudanya dengan latihan militer yang keras dan draf taktik perang yang kaku.Mereka duduk bersama di atas sebuah batang pohon mati di tepi danau, berbagi kehangatan di bawah mantel bulu tebal yang sama.Arthur dengan sabar mengajari Helena cara memasang umpan cacing pada mata kail, sengaja membiarkan tangannya yang besar memandu gerakan tangan mungil Helena hingga wajah mereka kembali berdekatan."Pegang ujung senarnya seperti ini, Helena. Jangan terlalu k
Arthur meletakkan buku catatannya ke atas meja jendela dengan gerakan taktis yang cepat, lalu menyelipkan tangannya ke balik selimut tebal untuk meraba permukaan kulit paha Helena yang halus tanpa selembar benang pun di sana."Arthur, ini masih terlalu pagi, dan kita bahkan belum mencuci muka," protes Helena lemah, meskipun tangannya secara refleks melingkar di leher tegap Arthur saat suaminya mulai mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi lantai atas.Di dalam bak mandi kayu besar yang telah diisi oleh air hangat kiriman pipa pondok, Arthur membawa Helena masuk bersama-sama ke dalam air yang mengepulkan uap panas.Di bawah siraman cahaya fajar yang menembus kaca kamar mandi, pertarungan intim ketiga mereka pecah dengan ritme yang teramat intim dan basah.Arthur memposisikan Helena untuk duduk di atas pangkuannya di dalam air, membiarkan kejantannya yang sudah menegang tegak masuk melesak ke dalam liang senggama istrinya yang licin berkat bantuan air hangat
Meskipun atmosfer di atas kastil mulai dipenuhi oleh sukacita persiapan pernikahan dan aroma mawar putih, Henry tetap tidak mengendurkan sistem pertahanan militernya sedikit pun. Baginya, ketenangan ini adalah ilusi yang menuntut kewaspadaan berlapis.Di dalam ruang pengawas bawah tanah yang lembap
“Jangan hanya berdiri di sana, Helena. Kemari.”Helena yang sedang berdiri kaku di sana lantas tersentak usai mendengar perintah sang Duke untuk mendekat.Pria itu sudah berada di dalam air, menyandarkan punggung kokohnya pada tepian bak. Bahunya yang lebar terpampang jelas, kecokelatan dan berkila
“Kemari,” panggil Arthur lagi.Pria itu kini duduk di tepi meja mahoninya yang besar. Satu kakinya yang panjang berpijak di lantai, sementara yang lain menggantung santai, memberikan kesan dominan yang tak terbantahkan.Kemeja putihnya yang terbuka di bagian kerah memperlihatkan pangkal leher yang
“Selamat pagi, Tuan Duke. Saya Helena, pelayan baru di kastil ini dan atas perintah Duchess, saya diminta untuk memenuhi semua keperluan Tuan.”Suara Helena terdengar sedikit bergetar, namun ia berusaha menjaga punggungnya tetap tegak di tengah aula utama yang megah dan mencekam. Di hadapannya, Du







