Di dalam ruang privat yang megah ini, dunia luar dengan segala intriknya seolah menguap, menyisakan hanya dua jiwa yang saling mendamba.Arthur tidak menunggu lebih lama; tangannya yang besar dan kokoh bergerak dengan ketangkasan yang penuh gairah, melepas kancing-kancing apron dan gaun katun Helena seolah sedang membuka segel sebuah harta karun yang paling berharga.Helena tidak lagi menarik diri. Dia berdiri mematung namun penuh gairah, membiarkan pakaiannya jatuh satu demi satu ke atas karpet tebal bergaya Persia.Saat pakaian terakhir terlepas, tubuhnya yang mulus terpapar di bawah temaram cahaya lilin, menciptakan pemandangan yang membuat napas Arthur tertahan.“Kau sangat sempurna, Helena,” bisik Arthur, suaranya parau oleh nafsu yang membakar.“Malam ini, biarkan saya menjadi milik Anda sepenuhnya, Arthur. Tanpa sekat, tanpa batas,” sahut Helena, suaranya bergetar namun penuh tekad.Arthur meraup bibir Helena dalam ciuman yang membara. Lidah mereka saling melilit dengan liar, b
더 보기