Malam itu, mie kudzu pertama untuk uji pasar mulai disusun di atas tampah bersih. Di luar pagar, desa masih berbisik, tetapi kali ini bukan hanya tentang rasa makanan baru, melainkan siapa yang akan diterima bekerja jika mie kudzu benar-benar laku. Pagi keberangkatan ke kecamatan dimulai sebelum matahari menghangatkan halaman. Leo memeriksa mie kudzu produksi kecil yang sudah dikeringkan semalaman, memastikan helainya tidak patah terlalu banyak, baunya bersih, dan kemasannya cukup rapi untuk dibawa ke tempat resmi. Andika membuka catatan biaya di sisi meja. Di halaman itu tertulis pati kudzu, tenaga cuci, air, kayu bakar, pembungkus, waktu pengeringan, risiko gagal, serta ongkos jalan yang harus dihitung meski mereka hanya membawa produksi kecil. Darman berdiri di dekat keranjang dengan wajah percaya diri. “Barang seperti ini pasti laku. Orang yang sudah mencicipi mie gorengmu tidak mungkin bilang ini cuma pati bia
Read more