Johan menatap jilatan api yang mulai mengecil, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Emily. "Pikirkan lagi, Emily. Paksa otakmu mengingat kembali masa sebelum rumah kita dibakar.""Aku sedang mencoba, Kak, tapi kepalaku sakit," keluh Emily, meremas pelipisnya yang terasa berdenyut akibat hawa dingin yang menusuk."Biar kubantu memancing ingatanmu," potong Johan, nadanya bergeser menjadi lebih dalam dan menyelidik."Bukankah kau dulu saat masih berusia tujuh tahun pernah memiliki seorang teman pria rahasia yang sering menyusup ke halaman belakang rumah kita? Ingatkah kau, kalian berdua bahkan sering membantu ibu kita memasak sup herba di dapur?"Emily tertegun. Detak dadanya mendadak bergemuruh hebat, seolah ada dinding besar di dalam ingatannya yang runtuh seketika. "Teman pria... rahasia?""Ya. Anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu mengenakan jubah lusuh berkerung besar untuk menyembunyikan wajahnya," lanjut Johan, matanya berkilat intens."Ibu sering memberinya makanan kare
Read more