Johan berlari cepat menembus semak-semak yang membeku, kakinya menerjang tumpukan salju dengan langkah-langkah lebar yang memicu nyeri hebat di pundaknya. Setiap embusan napasnya terasa seperti serpihan kaca yang menusuk paru-paru, namun matanya tetap fokus menembus kegelapan.Ia tahu waktu yang dimilikinya sangat tipis. Di bawah sana, di perkemahan yang senyap, Emily sedang berjalan menuju takdir yang bisa saja merenggut nyawanya dalam sekejap mata."Jangan bertindak bodoh, Emily!" gerutu Johan di sela-sela langkahnya, melompati akar pohon besar yang melintang. "Jika pria itu melepaskan busurnya sebelum kau sempat bicara, pengorbananku memancing dua puluh kavaleri besi tadi akan menjadi sia-sia!"Di depan tenda komando yang sunyi, hawa ketegangan begitu pekat hingga seolah mampu membekukan udara. Kael, yang mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar perimeter, tidak lagi mengandalkan zirah mekanisnya yang kehilangan pasokan uap.Dengan sisa-sisa kekuatan biologisnya yang te
Leer más