Nikolai bangkit, melangkah cepat dan kembali mengunci pergerakanku di sisi meja makan. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma pekat anggur merah yang baru saja diminumnya dari sela napasnya yang memburu."Apa pun akan kulakukan, Eli... agar aku bisa hidup bersamamu selamanya," bisiknya dengan tatapan mata yang tajam, gelap, dan menakutkan.Aku meremas pinggiran meja kayu walnut itu, menatapnya dengan amarah yang tertahan di dada. "Lalu bagaimana dengan perasaanku? Tidakkah kau berpikir keputusanmu itu sangat tidak adil bagiku?""Yang sudah mati, biarkanlah mati," bisiknya tepat di lubang telingaku, sementara jemarinya yang kasar mulai menelusuri setiap lekuk tubuhku dengan posesif. "Apa pun yang kita lakukan saat ini, tidak akan pernah bisa membuat orang tua kita kembali hidup, Eli."Ia mengecup daun telingaku dengan penuh gairah yang menuntut. Bersama dengan sentuhan itu, air mataku tumpah tak terbendung. Kalimat yang baru saja diu
Last Updated : 2026-05-19 Read more