首頁 / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 110 RACUN DI SELA JEMARI

分享

BAB 110 RACUN DI SELA JEMARI

last update publish date: 2026-05-20 07:00:47

Aku menyentuh lengan Nikolai dengan tangan yang gemetar hebat. "Nikol..."

Namun, pria itu menepis tanganku dengan gerakan dingin yang terasa asing. "Istirahatlah. Aku harus mengurus beberapa urusan di bawah," ucapnya dengan nada datar dan membekukan, lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan hawa mencekam yang merayap di dinding kamar.

Aku yang sudah merasa berada di titik terendah duniaku, hanya bisa menjatuhkan diri di atas kasur besar itu sendirian. Tangisku pecah dal
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 127 STRATEGI PENGHANCURAN

    Aku seketika membuang muka ke arah jendela, berusaha keras menekan gejolak emosi agar motif taktis yang kuciptakan sendiri tidak terlihat cacat di matanya.Aku cemburu? Tidak. Aku hanya tidak sudi membiarkan Nikolai melangkah ke atas takhta dengan menginjak harga diriku sebagai batu loncatannya."Ini murni demi keuntungan faksi Mawar Hitam, Tuan Moritz. Anggap saja ini sebagai kompensasi awal sebelum kau melaksanakan tugas pembersihan yang sesungguhnya," sahutku berkelit dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin mungkin.Moritz terkekeh pelan, lalu mengetukkan ujung cerutunya di atas asbak kristal hingga baranya padam. "Baiklah. Aku akan menantikan kedatanganmu besok siang di tempat ini. Berdandanlah dengan gaun terbaik yang paling memikat, Nona Dokter."Aku hanya melempar seulas senyum tipis sebagai simbol persetujuan mutlak, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah lebar meninggalkan Sanfagu Bar yang pekat dengan aura hitam dunia b

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 126 CEMBURU DALAM KEMASAN DENDAM

    Ia tampaknya mendadak lupa pada fakta medis bahwa saat ini organ vitalnya bahkan tidak mampu merespons rangsangan apa pun.Aku kembali tertawa singkat, merasa terhibur dengan ego maskulinnya yang masih menjulang setinggi langit di balik kekurangannya. "Kalau begitu... kau harus bergegas menyembuhkan adik kecilmu itu, Tuan Moritz. Kau perlu tahu... aku adalah tipe wanita dengan libido tinggi yang membutuhkan keintiman setidaknya dua kali dalam sehari."Sret!Moritz mendadak melepaskan kuncian lengannya secara drastis, lalu memutar bahuku dengan paksa agar aku menghadap ke arahnya sepenuhnya. Dahinya berkerut dalam dengan sepasang mata yang memicing tajam, menatapku penuh ketidakpercayaan."Benarkah? Kau... wanita dengan kebutuhan seintens itu?"Aku tahu persis umpan vulgar ini akan langsung menyengat egonya yang rapuh. Karakteristik dasarnya sebagai predator wanita membuatnya sangat sensitif terhadap topik ini. Rumor tentang kega

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 125 TARUHAN DI RUANG MAWAR HITAM

    Moritz menarik kembali tubuh besarnya menjauh dariku sembari mengembuskan tawa singkat yang hambar. Dalam sekejap mata, raut wajahnya mendadak bertransformasi menjadi sangat kaku, menatapku dengan sorot mata sedingin es. "Apa kiranya yang membuatmu begitu percaya diri bahwa aku bersedia menurunkan pasukanku demi menjadi pedangmu, Nona?"Aku hanya menyunggingkan seulas senyum tipis. Dengan gerakan anggun, aku mendudukkan diri di atas sofa beludru hitam sembari menyilangkan kaki secara santai. Aku menyesap anggur merah di dalam gelas kristalku perlahan, membiarkan keheningan mengintimidasi ruangan sebelum akhirnya memberikan jawaban."Karena aku... sanggup mendatangkan dokter spesialis yang mampu mengembalikan kejantananmu berfungsi dengan sempurna." Aku menatap riak cairan anggur di tanganku sebelum melirik Moritz dengan sebuah seringai taktis.Moritz seketika membeku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya menyipit tajam, menatapku penuh

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 124 MENGGENGGAM RAHASIA

    Aku menyeringai dingin, lalu dengan santai menepuk pundak kedua pria itu bergantian. "Percayalah, sebentar lagi kalian berdua justru akan berlutut dan berterima kasih kepadaku. Cepat antar aku sekarang juga." Mereka akhirnya menyerah dan mulai mengawal langkahku menuju ruang privat paling ujung. Di sepanjang koridor, sayup-sayup aku bisa mendengar gema suara kekehan mabuk para pengunjung, berbaur dengan dentum musik berdentang keras yang meredam suara luar. "Ini ruangannya," ucap salah satu pria itu begitu kami berhenti di depan sebuah pintu kayu jati solid berukir mewah yang tertutup rapat. Salah satu dari mereka membuka pintu sedikit dan melangkah masuk terlebih dahulu untuk memberi laporan. "Tuan, maaf mengganggu. Kami... kami sudah berhasil membawa wanita baru berkualitas untuk Anda." Pyar! Prang! Gema suara pecahan botol beling yang menghantam dinding terdengar begitu memekakkan telinga. "

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 123 MENYUSUP KE KANDANG MONSTER

    Aku bergerak cepat, meraih topi hitam yang tergeletak di atas meja kaca dan mengambil selembar masker medis baru dari dalam tas jinjingku. "Eli, apa kau benar-benar yakin akan pergi mendatangi sarang Mawar Hitam itu sendirian?" tanya Bella dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Aku memasang topi hitam itu sedalam mungkin hingga menutupi dahiku, lalu diam-diam menyelipkan pisau lipat kecil pemberian Nikolai ke dalam saku celana jins yang kukenakan sebagai senjata pertahanan terakhir. "Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Bella. Aku yang sekarang... sudah tahu bagaimana cara mengatasi pria-pria arogan seperti mereka." "Eli, segera kirimkan sinyal darurat padaku jika kau membutuhkan bantuan," ucap Bella sembari menggandeng pergelangan tanganku erat, menatapku dengan sorot mata yang sarat akan rasa tidak rela jika aku harus terluka lagi. "Ehm, aku mengerti," sahutku singkat untuk menenangkannya

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 122 STRATEGI PERANG

    Tok! Tok! Gema ketukan pintu kamar yang berirama konstan memecah keheningan. Bella langsung bangkit dari posisinya, melangkah waspada ke arah pintu depan untuk membukanya. "Kau? Masuklah cepat, situasi sedang memanas," bisik Bella sembari menarik seorang pria yang baru saja tiba di ambang pintu. Bella menuntun pria itu mendekat, lalu memperkenalkannya tepat di samping tempatku duduk. "Eli, kenalkan, ini Sam. Dia adalah jurnalis investigasi senior di bidang politik yang sangat berpengaruh di wilayah Ravenstain." "Hai, Nona." Sam mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku, menyapaku dengan seulas senyum lebar yang ramah namun penuh teka-teki. Aku bangkit berdiri, menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan secara formal. "Hai, Sam. Aku Elianore. Elianore Wyss." "Aku sudah mendengar banyak hal tentang sepak terjang dan situasimu dari Bella," ucap Sam sembari melirik sekilas ke arah Bella yang b

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status