Nikolai menghela napas panjang sambil menatapku putus asa, seolah kehabisan cara menghadapi kepalaku yang keras.Tanpa bicara lagi, ia mengubah tuas mobil dengan sentakan taktis lalu menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat roda mobil berdecit keras membelah aspal Ravenstain dengan kecepatan tinggi.Keheningan di dalam kabin terasa mencekam. Setelah termangu selama dua jam perjalanan, mataku menatap nanar pada jalan sekitar yang asing dan semakin menjauh dari pusat kota. "Kau mau membawaku ke mana?" tuntutku, namun ia tetap bungkam.Tubuhku menegak kaku, menatap ke luar jendela yang dipenuhi semak-semak liar yang semakin rimbun. Di sekitar tampak lengang dan sepi, jauh dari pemukiman warga."Nanti kau akan tahu," sahutnya dengan santai seperti pembunuh berdarah dingin yang baru saja mengamankan korbannya.Dadaku berdenyut tak karuan, rasa tidak percaya kembali muncul ke permukaan, meracuni akal sehatku. Padahal, baru beberapa ja
Read more