Nikolai perlahan mendekatkan wajahnya yang rupawan, mengikis jarak yang tersisa di antara kami, lalu mencumbu bibirku dengan hangat dan penuh kelembutan yang memabukkan. Sentuhannya seolah menghapus sisa-sisa ketegangan yang sempat menggantung di udara. Ia kemudian menggendongku dengan ringan dalam dekapannya yang kokoh, lalu membawaku melangkah masuk ke dalam kamar utama yang temaram."Sejak kita menikah, kita belum menuntaskan hubungan suami istri," bisiknya begitu merebahkanku di atas kasur yang empuk dengan sangat hati-hati.Dadaku berdesir mendengar pengakuannya. Benar. Upacara pernikahan kami dihancurkan oleh Nadine, dan kematian Ayah membuatku terus merenung seperti mayat hidup selama berminggu-minggu, menenggelamkan gairah kami dalam kedukaan yang pekat."Maafkan aku, Nikol..."Nikolai menggeleng pelan dengan senyum tipis yang menggoda, kilat di matanya tampak begitu intens menatapku. "Aku tidak butuh permintaan maaf.""
Read more