Selama dua minggu berlalu, aku dan Nikolai menikmati waktu bersama meski dengan hati yang lara. Kenyataan bahwa Ayah dan Bibi Sofia belum merestui hubungan kami, membuatku sering kali termenung dalam kesendirian di balkon apartemen, sambil menatap kosong ke arah jalanan kota di bawah sana yang masih sepi diselimuti kabut tipis."Apa yang kau lamunkan, Sayang..." bisik Nikolai lirih. Tanpa terdengar langkah kakinya, ia tiba-tiba datang memelukku dari belakang, menenggelamkan tubuhku dalam dekapan hangatnya sambil membenamkan wajahnya di ceruk leherku.Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh, lalu membelai lembut rambutnya yang tebal. "Aku hanya menghirup udara pagi, Nikol...""Kau berbohong," ucapnya seraya mengangkat wajah. Ia menatapku dalam-dalam, mencoba membaca setiap gurat kecemasan yang coba kusembunyikan. "Kau masih memikirkan ayah, kan?"Aku tersenyum masam. Mungkin dia memang sudah tahu jawabanny
Read more