"Ayo kita pergi, Eli," ajak Adrian dengan senyum hangat yang menenangkan, meski tangannya yang mengeratkan tautan pada jemariku terasa sedikit gemetar.Aku menatapnya dengan kening berkerut dalam, ada beban yang tak sanggup kutahan lagi. "Kenapa kau bersedia melakukan ini, Adrian? Kita hanya akan dijadikan boneka dalam permainan mereka.""Aku tahu," bisiknya parau, matanya yang berkaca-kaca menatapku dalam."Tetapi, hanya ini yang bisa kulakukan untuk melindungimu. Jika aku menolak, Nadine akan benar-benar menggila padamu, Eli."Mataku membulat sempurna. Napasku seolah terhenti mendengar pengakuan itu. "Kau... kau sudah tahu?"Adrian mengangguk pelan dengan senyum hambar yang menyayat hati. "Hm. Dia mengancamku. Aku tidak bisa membiarkan wanita itu menyentuhmu meski seujung kuku pun."Air mataku akhirnya luruh. Sampai detik ini, di saat hatinya sendiri sedang hancur, Adrian masih menempatkan keselamatanku di atas segalanya. Rasa
Last Updated : 2026-04-26 Read more