Aku seketika tersenyum simpul, wajahku terasa memanas karena malu yang membuncah. Sembari menggigit bibir bawah, aku mengangguk pelan—memberikan izin yang selama ini ia nantikan.Tak menunggu lama, Nikolai langsung menindihku. Ia menghujani leherku dengan ciuman lembut yang menenangkan, sangat kontras dengan sikap kasarnya kemarin. Kali ini, setiap sentuhannya terasa sarat akan cinta dan hasrat yang tulus, bukan sekadar pelampiasan amarah."Mmhhh... Nikol..." desahku lirih begitu bibirnya mulai bergerak turun, menyesap kulit di daerah dadaku.Ia mulai menghisap putingku yang mencuat tegang, sesekali lidahnya menari liar di ujung puncak kembaranku. Sementara itu, jemarinya yang berurat tak mau diam. Ia menelusuri daerah sensitifku di bawah sana yang sudah mulai membasah, seolah-olah pusat kewanitaanku sudah tidak sabar untuk ditembus.Dengan permainan lidah yang ahli, ia menjilati seluruh inci tubuhku hingga akhirnya m
Read more