Kini, setelah beberapa acara terlewati maka sampailah Raniya di apartemen yang akan menjadi saksi hidupnya selama satu tahun ke depan. Senyumnya spontan lenyap. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela. Dirinya paham tidak hanya soal saling memberikan kepuasan sesuai kontrak, melainkan banyak hal rumit yang mungkin akan baru ia temukan setelahnya bersama pria yang tak diinginkan itu. “Ibu mertua menelpon, katanya ponselmu nggak bisa dihubungi, Raniya,” kata Abimana sembari menarik koper istrinya itu masuk ke kamar. Raniya menoleh, tersenyum kecut. “Emangnya, peduli apa? Yang dia mau udah terlaksana, mau apa lagi?” Kedua bahu Abimana melorot mendengar itu, hubungan ibu dan anak perempuan yang kurang baik nyatanya ada di depan mata, sedangkan dirinya yang sudah se tua itu merindukan sang ibu dan ingin bergelayut manja, tetapi tidak bisa. Abimana tidak menghakimi Raniya seperti yang perempuan itu bayangkan usai menjawab dengan melempar balik beberapa pertanyaan.
Last Updated : 2026-04-13 Read more