ログイン“Itu?” Abimana mengerjap bingung, tetapi juga paham karena ia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Raniya melirik ke bawah, menunjuk lewat tatapannya. “Em, … jangan kamu pikirkan! Ini normalnya pria yang—” “Terangsang?” Raniya menyahuti dan benar, Abimana tak bisa mengelak. “Artinya aku menggoda?” “Raniya … maksudnya—” “Aku-dengan diriku yang kerap dinilai nggak menarik ini, menurut Om menggoda?” Lagi, Raniya menyahuti lebih cepat seolah tak memberikan kesempatan. Abimana menyerah, ia mengangguk. “Kamu dengan kesederhanaanmu itu menggoda, Raniya. Bukan soal gairah saja, kamu menarik pada banyak hal. Mereka belum bisa melihat seluas itu,” terangnya membuat Raniya tersipu, tampak sekali di kedua pipinya memerah. Raniya malu bukan karena dipuji semata atau meremehkan Abimana sebagai mantan buaya darat yang ucapannya tak bisa dipegang sama sekali. Tetapi, lebih pada objektivitas Abimana dalam menilainya sebagai pria dengan banyak pengalaman dan pandangan, begitu luas
Mungkin terkesan tidak sopan pada mertua, tetapi perasaan sang istri itu tanggung jawabnya, bukan? Abimana melemparkan tatapannya ke seisi kamar. “Raniya,” panggilnya tak menemukan perempuan itu di kasurnya. “Raniya!” Tak kunjung ada sahutan membuat Abimana diserang panik, pamitnya hanya merokok sebentar di depan, jika mungkin Raniya mencarinya dan tidak ada, perempuan itu pasti kebingungan atau mungkin keluar bertemu keluarganya dan dipaksa bergabung. “Raniya?” Abimana mengetuk pintu kamar mandi. “Ran—” “Om, hobi banget sih manggil-manggil gitu!” Si perempuan protes dari kamar mandi, membuka pintu dan menampakkan dirinya yang sejak tadi dicari seperti hilang satu tahun saja. “Lagi sakit perut!” Mata Abimana langsung berpindah menatap perut rata Raniya yang sedikit ditekan itu. “Diare?” tebaknya. Raniya menggeleng kepala. “Aku dateng bulan, Om. Aku kira masih besok, tapi udah duluan, mana cuman bawa satu pembalutnya,” ujarnya mendesah asa. “Mau aku belikan?” “Hem?” Kedua
Bertemu banyak orang dan harus berinteraksi sepanjang waktu bukan sesuatu yang nyaman bagi Raniya, terlebih ada orang tuanya di sana. Bahkan, turun untuk menyapa ibunya saja Raniya menolak sendiri, sengaja ia berlama-lama. “Liat kamu gimana!” kata Diniati mencibir putrinya. Raniya menghela nafasnya, di sana di depan keluarga Abimana tidak mungkin mereka berdebat mulut. “Kenapa aku, Ma?” Raniya bertanya seolah tak paham jika penampilannya tengah dibahas. Diniati melirik dari atas sampai bawah. “Keluarga Abimana itu orang kaya dan berkelas, mereka anggun juga elegan, nggak bisa kamu menyesuaikan, heh?” Ia mendecakkan lidah. “Celana, kaos sama cardiganmu itu … ck! Nggak ada baju lain? Yang Mama belikan waktu itu ke mana?” “Aku nggak suka.” Raniya menahan diri. “Astaga!” Diniati menggeram, berusaha memelankan suaranya. “Sesuaikan, Raniya! Kurang berapa orang lagi yang mau omelin kamu, hah? Nunggu Abimana protes terus ngelirik cewek lain, baru kamu nyesel?” Sungguh, Raniya benc
Dengan lengan kemeja yang dilipat sampai siku, ketampanan Abimana tampak bertambah. Bagaimana otot-ototnya mengencang dan mengendur bergantian, seakan berada di antaranya adalah kenyamanan. Raniya mengalihkan pandangannya, tetapi matanya justru tertuju pada bibir pria itu yang basah dan sibuk. Lekuk dan gemeltuknya mengingatkan Raniya pada ciuman mereka kemarin yang lembut, merasuk, tak menuntut, tetapi mampu membakar dirinya lagi membuatnya hanyut pada ketenangan. “Raniya?” Lagi, Raniya berjengit kaki sampai membentur meja nyaring. “Ran—” “Aku ke kamar bentar!” kata Raniya bergegas ke kamar, bahkan ia berlari meskipun dekat, lalu mengunci pintunya. Dadanya berdebar-debar, Raniya merutuki isi kepalanya yang malah membayangkan sentuhan-sentuhan hangat oleh Abimana meskipun ia akui sekali sentuhan pria itu susah untuk dilupakan dan mendambakan. Abimana sangat ahli menyentuh setiap titik sensitifnya. Parahnya, Raniya merasa sesuatu mengalir dari celah pahanya yang kemudian bas
“Kamu berantem sama Raniya?” tuduh wanita berbusana merah muda dengan tas jinjing hitam itu. Abimana melihat ke depan, istrinya baru saja pergi dengan ojek online. “Abi … kamu bikin dia marah, hah?” “Te, nggak kok. Kebetulan aku ada kerjaan pagi ini, nggak sejalan sama Raniya, jadi daripada aku telat, Raniya naik ojek dulu. Kalau aku berangkat terlalu pagi juga kasihan Raniya harus buru-buru, di kantornya masih sepi,” terang Abimana serapi itu membuat alasan yang masuk akal meskipun bohong. Wajah tegang tante Sena berubah tenang usai mendengarnya, wanita itu hanya tidak ingin kejadian di masa lalu pada rumah tangga kakaknya terulang kembali, apalagi Abimana tinggal jauh sendiri dengan status sosial yang lebih tinggi, bisa saja berpotensi menyakiti perempuan biasa seperti Raniya. “Yaudah kalau gitu! Tante kira kalian lagi berantem,” katanya. Abimana mengangguk. “Kalau berantem juga bukannya wajar dalam rumah tangga?” “Iya, wajar. Tapi, kamu bujuk lah! Jangan dibiarin pergi se
“Perhatikan!” Abimana membawa tangan Raniya merayap turun, ia bimbing sampai berada tepat di depan pangkalnya kemudian tangannya yang melapisi tangan dingin Raniya mendorong dengan rematan sehingga perempuan itu mendelik kaget. “Kamu melakukannya, ini.” Raniya tergagap tak mampu berbicara, tangannya terkunci mengikuti arahan Abimana sesuai pintanya. Dan, pria dari pria itu terbangun. “Aku menahanmu, tapi kamu—” Abimana menjedanya, mengambil tangan Raniya yang satu lagi, lalu kedua tangan itu diarahkan untuk membuka celananya hingga miliknya terlihat tegak menantang. “—meloloskannya,” sambungnya. Mata Raniya hampir lepas dari rongganya, ia benar-benar melotot penuh dengan mulut menganga bergetar tidak percaya. Tidak berhenti sampai di sana, Abimana menekan pundak Raniya sehingga perempuan itu berlutut tepat di depannya. Wajah Raniya sejajar dengan miliknya, ekspresi perempuan itu lebih membakarnya dari yang tadi, Raniya yang melupakan semua sangat menggemaskan dan jauh lebih m







