Masuk“Apa?” Abimana menelengkan kepalanya. Raniya menautkan jemarinya ke depan pada pangkuannya sambil duduk di depan suaminya itu yang baru saja pulang. “Aku pulang aja ya, Mas Abi? Di sini cuman repotin kamu aja,” kata Raniya merasa bersalah, dua agenda suaminya agak berantakan karena dia mendadak mual dan muntah lagi. Pria itu diam, pun mengalihkan pandangannya dari Raniya. “Mas Abi marah? Kok diem aja?” Berdebar sekali Raniya di sana, bibirnya sampai terlipat menyadari hanya menjadi beban. Abimana meluaskan kedua tangannya ke samping, menarik nafas panjang dan menghembuskannya seperti sedang melepaskan beraneka beban yang menumpuk di pikirannya. “Sini!” titah Abimana melirik pahanya agar Raniya duduk di sana. “Sini!” ulangnya. Takut dan ragu Raniya mendekat meskipun tidak mungkin Abimana bersikap kasar padanya, tetap saja hanya ada mereka berdua dan segala kemungkinan dari dia yang menyebalkan bisa saja terjadi. Perempuan itu duduk berhati-hati sekali ke pangkuan suaminya,
Raniya terpejam mata dengan belah bibirnya yang terbuka juga sesekali mendesah, entahlah yang katanya hendak pulang larut itu tiba-tiba pulang sebentar langsung melepaskan tali ikat daster rumahan milik Raniya dan mengulum pucuk kecoklatannya. “Mas Abi, hei!” ujarnya gelagapan, beruntung benar itu suaminya. “Aduh! Jangan digigit!” Tangan Raniya menepuk punggung Abimana yang sibuk mengulum dan menghisap itu, keringat di pelipis pria itu menandakan tadi cukup terburu-buru untuk menemuinya. “Sayang, bentar aja ya?” Abimana melepaskan kemejanya, lalu meloloskan celana dari kedua kakinya. “Aku kepikiran, sebentar ya?” Raniya manggut-manggut, lagipula dirinya juga sudah basah karena rangsangan di dadanya itu, menyesuaikan dengan sang suami Raniya pun melucuti pakaiannya tanpa sisa kemudian membuka lebar kedua kakinya agar segera sang suami melakukan penyatuan. “Agh!” desah Abimana tenggelam dalam sekali hentakan, begitu pula pekik dari Raniya menyusulnya sambil meremat lengannya yan
“Dulu, nggak kerasa sibuknya,” gumam Raniya melirik prianya yang sedari membuka mata sudah menelpon sana-sini, ditambah lagi memakai bahasa asing yang kurang dia mengerti. “Dulu, emang sering sibuk gini apa? Sering telponan? Perasaan aku nggak pernah denger dan liat dia gitu. Akal-akalan dia ya?” Cemburu, tidak terhitung sudah berapa kali kedua kakinya dibuat gemetaran oleh Abimana, tetap saja pria itu mengundang cemburu pada diri Raniya. Bahkan, jelas erangan Abimana di telinganya, tidak bisa meredakan cemburunya itu. “Oo, I see … oke, thanks!” Abimana memiringkan kepalanya sembari berkedip satu mata. “Ikut yuk, Sayang!” ajaknya mendadak. “Hem? Ikut ke mana?” Abimana berjalan ke depan meja makan, lalu duduk ke sana. Sebelah tangannya memanjang melingkari pinggang ramping Raniya. “Sepertinya, tujuh hari ke depan aku banyak kerjaan, ada yang di sini dan di luar kota. Sayang ikut saja ya, nanti menginap di sana, bagaimana?” Abimana menciumi pundak Raniya yang terbuka, perempuan
Membaik sedikit, sudah tidak bisa diam istrinya itu. Buktinya, pagi tadi ketika Abimana mandi, dia memang sengaja tak mengunci pintunya karena lebih mudah mendengar suara Raniya jika meminta tolong, tetapi faktanya perempuan itu malah masuk menyusulnya tanpa busana. “Raniya, kita ke depan makannya atau diantar saja?” Ia mendekat dan mencium kening istrinya itu, hanya melirik karena pintanya masih belum dipenuhi. “Di apartemen, aku udah janji ya!” Raniya samar mengangguk, biar saja dia terlihat bergairah sekali, toh nyatanya memang senikmat itu dan siapa yang tidak mau jika modelnya seperti Abimana, usia tidak menjadi batas untuk tetap tampan dan gagah. “Di kamar atau di luar?” Abimana bertanya lagi, sabar sekali sekaligus untuk berlatih ketika nanti dia dan Raniya mempunyai anak perempuan yang mungkin mirip ibunya. “Di mana, Sayang?” “Di luar aja, kan katanya mau isi waktu sama jalan-jalan!” “Oke, kita puas-puaskan jalan-jalan di sini, pulang tinggal tidurnya, hm?” Abimana terkek
“Raniya!” Abimana tersentak duduknya, ia lantas berlari dan segera menggendong tubuh istrinya itu. “Raniya, Sayang!” Raniya sedikit sekali membuka matanya. “Mas Abi, sakit!” “Iya? Raniya!” Abimana semakin panik. Semua orang di sana pun ikut panik, bahkan tante Sena langsung memanggil dokter agar Raniya segera diperiksa. Tak peduli jarak yang harus ditempuh, pertolongan harus datang sembari mereka memberikan pertolongan pertama. “Abi, ini …—” Tante Sena mendorong Abimana untuk minggir sebentar, hanya mereka yang ada di kamar semi berantakan itu. “Diapain aja?” “Hanya—” “Hanya apa, hah? Sampe kayak gitu! Pantes Raniya sakit, kamu ini!” Tante Sena tak lewat memukul lengan keponakannya itu. “Boleh kejar target, tapi nggak gini juga! Sampe memar itu loh!” Wajah malu Abimana tak bisa ditutupi lagi, sedang yang berbicara itu lebih tua dan berpengalaman dibandingkan dirinya. Semalam dan pagi tadi memang dirinya tidak kontrol sama sekali, Raniya begitu dihajarnya sampai habis. Tetapi,
“Mereka nggak bisa diganggu?” Tante Sena menggelengkan kepalanya, dia tahu bagaimana perangai Diniati pada Raniya, tidak akan dia biarkan Diniati merusak suasana hati pasangan yang sedang menikmati malam indah mereka itu. “Raniya!” Abimana terpejam mata, tubuh besarnya menopang Raniya yang menempel pada tembok dengan kedua kaki terangkat ke belakang. “Kamu beneran enak!” Raniya tidak mampu berkata-kata lagi, sungguh, kedua kakinya seakan tak bisa menapak bumi sama sekali karena suaminya itu terlalu brutal. Bahkan, di sepanjang kulit dadanya sudah memerah-merah hasil dari sesapan pria itu, Abimana seperti singa yang kelaparan, siap menghabisinya sampai pagi tanpa ampun, tiga tahun itu dihabiskan semua malam ini, sepertinya. “Mas Abi, Mas Abi!” Raniya tak kuasa, tubuhnya gemetar menerima pelepasan yang kesekian kalinya. Basah, banjir dan kebas. Miliknya pasti memerah dan bengkak esok hari, tetapi berhenti pun rasanya tidak rela, baru sebentar Abimana menarik miliknya keluar saja,







