Share

Bab 283

Penulis: QueenShe
last update Tanggal publikasi: 2026-07-12 12:56:31

“Sekarang jelasin sama aku, ada hubungan apa kamu sama Mas Prana?”

Tiara mengusap kedua lengannya sendiri. Sikap kakaknya yang mendadak dingin membuatnya kikuk. “Mbak, bukannya dulu aku sudah jelasin?”

“Jelasin yang mana, Ra?” tagih Shanum, matanya memicing, menuntut kejujuran tanpa celah.

“Selama Mbak dan Mas Prana putus, Mas Prana memang sering nanya kabar Mbak sama aku. Terus aku pernah ketemu Tante Ralin pas aku ketemu Mas Prana dulu,” jawab Tiara, mencoba tetap biasa saja dan tenang.

Shanu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Siti Hasanah
lama banget alurnya ....
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
lanjut kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 306

    “Udah kubilang jangan terlalu berharap banyak,” ulang Prana tenang, mengecup dahi Shanum lembut, menenggelamkan wajahnya ke dada agar perbincangan itu benar-benar usai.Mendengar jawaban itu, Shanum tak bertanya lagi. Ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, apalagi Ani menganggap mantan suaminya sudah mati.“Tapi gimana Tante Ralin dan Mas Prana bisa kenal?” tanya Shanum dalam hati, menyandarkan kepala di dada Prana, membiarkan kehangatan tubuhnya perlahan menuntunnya tidur.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesibukan masing-masing. Prana kembali ke jadwal padatnya sebagai dokter, membagi fokus antara pasien, memantau perkembangan Bobby, dan menjaga Ralin yang pemulihannya bertahap membaik.Shanum sendiri memilih menyibukkan diri mengurus usahanya yang sempat terbengkalai, sekaligus bergiliran menjaga Bobby di rumah sakit.“Mas masih di ruang operasi?” tanya Shanum, sambil menempelkan ponsel di t

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 305

    “Mas tahu ayah kandung aku?” tanya Shanum, menatap lurus ke dalam manik mata Prana dengan raut tak percaya.Napasnya memburu. Air di dalam bathtub berkecak pelan seiring gerakan tubuhnya yang mendadak sigap, dan berputar menghadap Prana sepenuhnyaPrana menyunggingkan senyum tipis. Kedua tangannya bergerak menahan pinggang Shanum agar posisi duduk wanita itu di dalam bak mandi tak merosot.“Tahu,” jawab Prana tenang.“Siapa, Mas?” desak Shanum. Tangannya mencengkeram erat bahu Prana, mengabaikan cipratan air hangat yang membasahi dada pria itu.Prana menggelengkan kepala secara perlahan. “Nanti, Num. Gak sekarang.”“Mas, kenapa disembunyikan lagi?” sahut Shanum, nada suaranya bergeser ke arah jengkel. “Aku udah berhak tahu sekarang. Selama dua puluh delapan tahun ini aku gak tahu apa-apa. Masa Mas juga mau ikut-ikutan merahasiakan ini dari aku?”“Aku gak bermaksud merahasiakan ini buat membohongi kamu, Sayang,” potong Prana lembut. Pria itu mengusap sisa busa yang menempel di pipi Sha

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 304

    “Yakin masih mau mandi sendiri?” Prana melepaskan kancing blouse Shanum satu per satu hingga pakaian itu meluncur jatuh, meninggalkan tubuh wanita itu hingga tak tertutupi sehelai kain pun.“Mas...” bisik Shanum pelan, reflex mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.Prana tak banyak bicara. Ia langsung menggendong tubuh Shanum, membawanya melangkah beberapa tindak mendekati bak pualam di sudut ruangan. Air hangat yang berbusa lavender langsung menyambut begitu Prana menurunkan tubuh Shanum perlahan ke dalam bathtub.“Kita cuma mandi, Sayang. Emang kamu pikir apa?” goda Prana, terkekeh sembari mencolek ujung hidung Shanum yang masih merona.“Mas!” gerutu Shanum, memercikkan sedikit air berbusa ke arah lengan Prana.Prana tertawa kecil sambil melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu ikut bergabung masuk ke dalam bak mandi. Ruang yang terbatas membuat air hangat sedikit meluap ke tepi.Prana menarik lembut tubuh Shanum agar bersandar rapat pada dada bidangnya yang koko

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 303

    "Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 302

    “Udah selesai?”Suara itu menyadarkan Shanum yang sedari tadi melamun begitu keluar dari ruang ICU. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu kaca. Begitu mendongak, Prana sudah berdiri tegak di depannya, melemparkan senyum tipis yang menenangkan.Prana mengikis jarak di antara mereka, meraih pergelangan tangan Shanum dengan lembut. “Kita pulang dulu, yuk?”Shanum tak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah ruang tunggu yang terletak beberapa meter di sebelah kanan. Di atas kursi panjang, Ani duduk tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Sorot mata ibunya penuh dengan ancaman, seakan siap menerkam jika Shanum berani mengambil salah langkah.Shanum menarik pelan tangannya, mencoba memberi jarak agar tak memicu keributan baru di sana. “Mas kok di sini? Tante Ralin gimana?”“Mama lagi tidur, kondisinya udah aman,” jawab Prana. Pria itu kembali mendekat dan menaruh telapak tangannya di pinggang Shanum, menuntunnya berjalan menuju lorong lift.“Tapi, Mas...”“Aku mau antar kamu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 301

    “Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 90

    Prana menutup pintu ruang kerjanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Hari ini jadwalnya padat luar biasa. Dua operasi caesar, satu konsultasi fertilitas, dan diakhiri dengan pasien kontrol rutin yang antriannya mengular hingga ke koridor.Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 89

    “Fadil mana? Jeng Kartika mana?” sambut Ani–Ibu Shanum–begitu Shanum melangkah masuk melewati ambang pintu. Matanya melongok ke arah teras, mencari sosok menantu kebanggaannya yang diharapkan muncul dengan segala kemewahannya.“Mereka masih punya urusan, Bu. Jadi gak bisa ke sini,” jawab Shanum pen

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 77

    “Kamu masih bisa mundur sekarang,” bisik Prana serak dan rendah, “kalau tidak, aku gak akan melepaskanmu.”Wajah Prana semakin mengikis jarak hingga Shanum bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulitnya. Prana memiringkan kepalanya sedikit, sebuah gestur predator yang sedan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 70

    “Maksud kamu... Fadil boleh menikah lagi?” tanya Kartika memastikan bahwa telinganya tak salah dengar. “Kamu nggak masalah?”Matanya yang biasanya penuh kilat sinis kini melebar dengan binar antusiasme yang tak terbendung. Shanum menyesap teh, tetap terlihat tenang.“Kenapa harus masalah, Ma?” Shan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status