LOGIN“Mas tahu ayah kandung aku?” tanya Shanum, menatap lurus ke dalam manik mata Prana dengan raut tak percaya.Napasnya memburu. Air di dalam bathtub berkecak pelan seiring gerakan tubuhnya yang mendadak sigap, dan berputar menghadap Prana sepenuhnyaPrana menyunggingkan senyum tipis. Kedua tangannya bergerak menahan pinggang Shanum agar posisi duduk wanita itu di dalam bak mandi tak merosot.“Tahu,” jawab Prana tenang.“Siapa, Mas?” desak Shanum. Tangannya mencengkeram erat bahu Prana, mengabaikan cipratan air hangat yang membasahi dada pria itu.Prana menggelengkan kepala secara perlahan. “Nanti, Num. Gak sekarang.”“Mas, kenapa disembunyikan lagi?” sahut Shanum, nada suaranya bergeser ke arah jengkel. “Aku udah berhak tahu sekarang. Selama dua puluh delapan tahun ini aku gak tahu apa-apa. Masa Mas juga mau ikut-ikutan merahasiakan ini dari aku?”“Aku gak bermaksud merahasiakan ini buat membohongi kamu, Sayang,” potong Prana lembut. Pria itu mengusap sisa busa yang menempel di pipi Sha
“Yakin masih mau mandi sendiri?” Prana melepaskan kancing blouse Shanum satu per satu hingga pakaian itu meluncur jatuh, meninggalkan tubuh wanita itu hingga tak tertutupi sehelai kain pun.“Mas...” bisik Shanum pelan, reflex mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.Prana tak banyak bicara. Ia langsung menggendong tubuh Shanum, membawanya melangkah beberapa tindak mendekati bak pualam di sudut ruangan. Air hangat yang berbusa lavender langsung menyambut begitu Prana menurunkan tubuh Shanum perlahan ke dalam bathtub.“Kita cuma mandi, Sayang. Emang kamu pikir apa?” goda Prana, terkekeh sembari mencolek ujung hidung Shanum yang masih merona.“Mas!” gerutu Shanum, memercikkan sedikit air berbusa ke arah lengan Prana.Prana tertawa kecil sambil melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu ikut bergabung masuk ke dalam bak mandi. Ruang yang terbatas membuat air hangat sedikit meluap ke tepi.Prana menarik lembut tubuh Shanum agar bersandar rapat pada dada bidangnya yang koko
"Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit
“Udah selesai?”Suara itu menyadarkan Shanum yang sedari tadi melamun begitu keluar dari ruang ICU. Langkah kakinya sempat tertahan di ambang pintu kaca. Begitu mendongak, Prana sudah berdiri tegak di depannya, melemparkan senyum tipis yang menenangkan.Prana mengikis jarak di antara mereka, meraih pergelangan tangan Shanum dengan lembut. “Kita pulang dulu, yuk?”Shanum tak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah ruang tunggu yang terletak beberapa meter di sebelah kanan. Di atas kursi panjang, Ani duduk tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Sorot mata ibunya penuh dengan ancaman, seakan siap menerkam jika Shanum berani mengambil salah langkah.Shanum menarik pelan tangannya, mencoba memberi jarak agar tak memicu keributan baru di sana. “Mas kok di sini? Tante Ralin gimana?”“Mama lagi tidur, kondisinya udah aman,” jawab Prana. Pria itu kembali mendekat dan menaruh telapak tangannya di pinggang Shanum, menuntunnya berjalan menuju lorong lift.“Tapi, Mas...”“Aku mau antar kamu
“Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi
“Mbak, kenapa sih harus berantem lagi sama Ibu disini?” tegur Tiara memecah kesunyian. Matanya menatap wajah Shanum yang sembab.“Aku cuma nanya soal ayah kandung aku, Ra,” jawab Shanum pendek, pandangannya beralih menatap ubin lantai.Tiara langsung terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka hendak melayangkan protes seketika terkatup rapat. Sorot matanya berubah canggung dan serba salah.“Tapi kan bisa nanya nanti pas udah di rumah, Mbak,” ucap Tiara kemudian. Suaranya melunak, tak ada lagi nada ketus seperti saat menghadapi ibunya tadi.“Aku udah gak bisa pulang kesana, Ra,” sahut Shanum datar.“Mbak...”Tiara menatap kakaknya dengan pandangan sedih, tahu betul kalau rumah mereka tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk Shanum. Keduanya terdiam dengan perbincangan yang menggantung, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai derap langkah kaki yang tergesa memecah kecanggangan itu.Ani kembali dengan wajah gusar, mendatangi tempat mereka berdiri dengan napas memburu. Tampaknya ada
“Mas, seharusnya tadi aku bawa mobil sendiri saja,” gerutu Shanum sambil terus meremas jemarinya yang dingin. “Kalau Mas Fadil lihat kita datang bersama, gimana?”Setelah perjuangan singkat melawan kantuk dan guncangan hebat mendengar kabar ayahnya, Shanum akhirnya menyerah duduk di kursi penumpang
Shanum menutup pintu kamar mandi dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Di dalam ruangan kedap suara ini, ia merasa seperti dikurung bersama bayangan-bayangan mengerikan yang baru saja ia tumpahkan di depan Prana.“Apa yang sudah kula
“Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat
Prana membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Shanum, mencium dan menghisap leher Shanum. Tangan Prana yang besar bergerak perlahan, mengusap leher, turun ke bahu, hingga menjelajahi lekukan tubuh lain.“Dalam mimpimu, apa aku melakukan ini?” tanya Prana penuh godaan. Bibirnya menyapu l







