“Kamu cari kendaraan yang lain saja!” Perintah itu meluncur dari bibir Fadil, dingin dan tak terbantahkan, tepat saat jemari Shanum nyaris menyentuh gagang pintu mobil. Shanum menarik kembali tangannya, berdiri terpaku.Di balik kaca mobil yang gelap, ia sempat menangkap gurat wajah ayah mertuanya, yang menatapnya dengan sisa-sisa rasa iba sebelum pria tua itu membuang muka.“Gak apa-apa, kita bareng aja, Mas,” sela Gandi, mencoba menengahi. Ia membukakan pintu sedikit lebih lebar. “Masuk saja, Num. Nanti sekalian kita antar ke rumah Pak Bobby.”“Gak perlu! Dia katanya udah bisa sendiri segalanya, gak perlu dibantu lagi!” potong Fadil dengan nada ketus yang menusuk.Matanya menatap Shanum dengan kilat peringatan—sebuah hukuman kecil atas keberanian Shanum menyebut nama Malik dan konfrontasi mereka beberapa menit lalu.Shanum yang mengerti bahwa membantah hanya akan memperpanjang drama di tempat umum, akhirnya hanya mengangguk pelan. “Iya, Mas.”“Tapi, Mas—” Gandi mencoba protes kemba
Read more